CILACAP – Tragedi meninggalnya para santri di Pondok Pesantren Al-Khoziny sampai dengan kebakaran di Darul Ulum, menyisakan duka mendalam. Terlebih lagi, dua kejadian ini berdekatan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Hingga nuansa duka mendalam, terasa sekali saat upacara pengibaran bendera di Hari Santri, Rabu (22/102025).
Salah satu bangunan di Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo ambruk pada Senin (29/9/2025) sore sekitar pukul 15.15 WIB. Mushala yang sedang dalam proses pembangunan runtuh ketika ratusan santri melaksanakan salat Ashar berjamaah di dalamnya.
Data Tim SAR terakhir menunjukkan, total korban mencapai 171 orang, terdiri dari 104 orang selamat dan 67 meninggal dunia. Termasuk delapan potongan tubuh manusia (body part) dan sudah teridentifikasi.
Sementara kebakaran di Ponpes Darul Ulum memaksa pengurus memulangkan 85 santriwati. Mayoritas kehilangan baju dan perlengkapan sekolah.
Kedua tragedi ini, membuat duka mendalam saat peringatan Hari Santri. Ini terlihat dari ucapan bela sungkawa pembina upacara Hari Santri di Kecamatan Majenang, Cilacap.
Camat Majenang, Aji Pramono saat membacakan pidato Menteri Agama mengawali dengan ucapan bela sungkawa.
“Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, izinkan saya menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas wafatnya 67 santri dalam musibah yang menimpa Pesantren Al-Khoziny,” ujarnya dalam pidato tersebut.
Ketua Panitia Hari Santri Kecamatan Majenang, Akrom Nurjazuli mengatakan, pihaknya membuat peringatan ini sederhana tanpa menghilangkan substansi. Selain menggelar upacara, panitia mengadakan kirab bagi peserta, lomba tumpeng dan kerapihan barisan.
“Semua ada makna seperti lomba tumpeng bentuk gotong royong dan kebersamaan. Dan tahun ini kita bersyukur karena semua antusias,” katanya. (*)
