BANDAR LAMPUNG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Bandar Lampung terus memperkuat upaya deteksi kasus HIV untuk menekan penularan penyakit tersebut. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, Dinkes menemukan 465 kasus baru di wilayahnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bandar Lampung, dr. Liskha Sari, menjelaskan bahwa tim Dinkes berhasil meningkatkan temuan kasus karena mereka gencar melakukan tracing terhadap populasi kunci dalam program Deteksi Kasus HIV. Ia menegaskan, deteksi kasus HIV menjadi langkah penting agar penyintas segera mendapat penanganan medis yang tepat.
“Hingga Oktober 2025, kami sudah memeriksa 33.895 orang, terdiri dari 29.631 orang dari populasi berisiko kategori SPM dan 4.354 orang dari non-SPM. Jumlah ini sudah mencapai 98 persen dari target pemeriksaan tahun ini,” kata dr. Liskha dalam FGD PKBI Sumatera Barat, Rabu (12/11/2025).
LSL Dominasi Temuan Kasus Baru
Kategori SPM mencakup ibu hamil, pasien TBC, pasien IMS, warga binaan, WPS, LSL, waria, dan pengguna napza suntik. Dari kelompok ini, deteksi kasus HIV paling banyak terjadi pada LSL dengan 242 temuan positif.
Kategori non-SPM meliputi pasien Hepatitis, pelanggan pekerja seks, pasangan berisiko tinggi, pasangan ODHIV, anak ibu ODHIV, calon pengantin, dan populasi umum. Dari kelompok ini, pelanggan pekerja seks mencatat 40 kasus positif.
Secara keseluruhan, kelompok SPM menyumbang 360 kasus dan non-SPM 105 kasus. Sepuluh tahun terakhir, total kasus HIV di Bandar Lampung mencapai 3.835, dengan puncak 565 kasus pada 2024.
dr. Liskha mengimbau masyarakat berisiko tinggi agar tidak takut menjalani pemeriksaan. Ia menegaskan, deteksi kasus HIV dini membantu penyintas mendapat pengobatan cepat dan menjaga kesehatan lebih baik.
“Semakin cepat seseorang tahu statusnya, semakin besar peluang sembuh dan hidup sehat,” ujarnya. (*)






