News  

DPR RI Kecam Penganiayaan Guru di Trenggalek. Harus Diusut Tuntas

Anggota DPR RI Novita Hardini dalam sebuah kesempatan. Dia mengutuk keras penganiayaan terhadap salah satu guru SMP Negeri di Trenggalek. (doc/dpr ri)

JAKARTA – Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini, mengecam keras penganiayaan terhadap salah satu guru SMP Negeri 1 Trenggalek. Tindakan kekerasan oleh wali murid itu tidak hanya menyerang individu. Namun telah merendahkan martabat dunia pendidikan.

Seorang guru seni budaya SMPN 1 Trenggalek, Eko Prayitno mengalami penganiayaan. Dia menjadi korban pemukulan sekaligus dan ancaman dari wali murid. Kekerasan ini dia alami justru saat menjalankan aturan sekolah hingga mengalami luka.

Novita Hardini lalu memberikan komentar pedas terhadap aksi pelaku. Menurutnya, aksi penganiayaan terhadap salah satu guru di Trenggalek ini sudah mencoreng dunia pendidikan.

“Guru bukan hanya pengajar. Mereka pilar bangsa yang menanamkan ilmu dan karakter. Ketika guru dipukul karena menegakkan aturan sekolah, yang diserang bukan hanya individu. Namun sudah menyerang martabat pendidikan dan masa depan anak-anak kita,” kata Novita yang juga Bunda Guru Trenggalek.

Novita, meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap pelaku kekerasan. Karena ketegasan hukum penting untuk menjaga wibawa tenaga pendidik.

“Jika disiplin guru mudah diganggu dan dibalas kekerasan, siapa yang berani mendidik anak bangsa? Ini soal keberlanjutan pendidikan kita,” tegasnya.

Ia lalu mendesak pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan memperkuat perlindungan bagi guru. Termasuk memperbaiki sistem keamanan di sekolah serta meningkatkan edukasi bagi orang tua agar memahami peran guru dalam mendidik anak.

“Sekolah bukan tempat adu kuasa antara guru dan wali murid. Ini institusi negara yang menjalankan amanat besar bagi generasi kita,” ujarnya.

Sebagai Bunda Guru Trenggalek, Novita menyatakan dukungan penuh kepada guru korban penganiayaan tersebut. Ia akan berkomitmen memperjuangkan perlindungan hukum yang lebih kuat bagi guru serta mekanisme pengaduan kekerasan memudahkan korban.

“Saya berdiri bersama guru-guru Trenggalek. Ini bukan sekadar satu insiden. Kekerasan kecil hari ini bisa tumbuh menjadi budaya ketidakadilan,” tutur Novita. (*)

Exit mobile version