News  

Fenomena Bendera One Piece Jadi Simbol Perlawanan Sosial Digital di Indonesia

ilustrasi ai

YOGYAKARTA – Pakar Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Fajar Junaedi, menyoroti fenomena bendera One Piece yang viral di media sosial dan publik sebagai simbol perlawanan sosial. Ia menilai, bendera dari anime tersebut bukan sekadar hiasan atau tren fandom. Namun juga memiliki makna semiotik dan ideologis yang dalam.

Fajar menjelaskan, One Piece sebagai manga shōnen membawa tema utama seperti kerja keras, kemenangan, dan persahabatan. Tokoh-tokoh utamanya merepresentasikan nilai-nilai itu. Sementara musuh-musuh mereka menjadi oposisi biner yang memperkuat konflik ideologis dalam narasi.

“Pertempuran para tokoh menjadi pertarungan ideologi. Manga ini tidak hanya menyajikan hiburan, tapi juga membawa nilai yang bisa menginspirasi gerakan sosial,” ujarnya, Senin (4/8/2025) seperti dilansir dari laman muhammadiyah.or.id.

Desain karakter, kostum, hingga simbol visual seperti bendera bajak laut Straw Hat Luffy, memiliki nilai estetika dan fungsi representatif yang kuat. Semua elemen visual tersebut, mendukung pesan cerita dan mencerminkan konflik sosial yang lebih luas.

Fajar juga merujuk penelitian Thomas Zoth (2011) yang menyoroti Water Seven Arc dalam One Piece. Zoth menyebutnya kritik politik terhadap negara yang mengorbankan hak individu demi keamanan nasional.

“Narasi ini mengandung pesan kritis terhadap negara dan penguasa,” katanya.

Melihat konteks sosial Indonesia, Fajar menilai fenomena bendera One Piece sebagai bentuk aktivisme digital yang menunjukkan resistensi terhadap ketimpangan sosial. Ia mengaitkan fenomena bendera One Piece ini dengan teori gerakan sosial Alberto Melucci. Melluci menyebut pentingnya simbol untuk menyatukan massa.

“Bendera itu menjelma menjadi simbol identitas kolektif. Warganet memakai bendera One Piece di status, foto profil, dan konten media sosial sebagai penanda keterlibatan dalam gerakan digital,” jelas Fajar.

Ia juga menyoroti, banyak pejabat justru salah paham terhadap makna simbol ini. Lebih parah lagi, pejabat ini memberikan komentar yang kontraproduktif.

“Ketika media massa mengangkat fenomena bendera One Piece ini dan pejabat menanggapinya secara keliru, justru memperkuat citra bahwa negara tidak memahami makna simbolik yang berkembang di masyarakat,” pungkasnya. (*)

Exit mobile version