News  

Film Jumbo, Dosen UGM Sentil Pentingnya Peran Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak

Film Jumbo yang tengah tayang di bioskop. Dosen UGM sebut, Film Jumbo mengangkat banyak realitas sosial tentang anak di Indonesia. (doc/filmjumbo.com)

YOGYAKARTA – Film animasi Jumbo mencuri perhatian publik setelah berhasil meraih lebih dari empat juta penonton. Tak hanya menghadirkan hiburan bagi keluarga, film ini menyisipkan pesan mendalam tentang pentingnya kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.

Mengangkat kisah Don dan kawan-kawan, “Jumbo” menyajikan petualangan yang sarat makna. Pakar psikologi anak dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Wulan Nur Jatmika, SPsi, MSc, mengulas film ini dan menilai bahwa Jumbo menyampaikan pesan berlapis yang bisa ditangkap oleh penonton dari berbagai usia.

“Dari sisi psikologi, film ini menyampaikan pesan kuat agar orang tua aktif mendampingi tumbuh kembang anak,” ujar Wulan melalui laman resmi UGM.

Wulan menjelaskan bahwa anak-anak dapat menangkap nilai persahabatan, kebaikan, dan kerja sama melalui cerita yang ringan dan penuh petualangan. Sementara itu, penonton dewasa bisa merasakan nostalgia dan dinamika psikologis karakter yang menggugah empati.

Angkat Realita Sosial

Ia melihat ada kedalaman alur cerita yang berhasil mengangkat realita sosial. Khususnya soal Adverse Childhood Experiences (ACEs), peristiwa traumatis yang menimpa anak sebelum usia 18 tahun.

“Film Jumbo ini menggambarkan kondisi anak yang kehilangan peran orang tua, mengalami kekerasan, atau tumbuh dalam lingkungan yang tidak mendukung secara emosional,” terang Wulan.

Karakter Don, Atta, Maesaroh, dan Nurman mencerminkan realita anak-anak dengan pengalaman masa kecil yang berat. Don kehilangan orang tuanya, sementara Atta hidup dalam kemiskinan tanpa pengasuhan yang memadai. Maesaroh dan Nurman harus tinggal bersama kakek tanpa kehadiran emosional orang tua.

Selain itu, Wulan juga menyoroti isu perundungan yang ditampilkan dalam hubungan antara Don dan Atta. Ia menyebut perundungan sebagai masalah kompleks yang sering berakar dari pola asuh negatif, trauma masa lalu, dan lingkungan sosial yang tidak sehat.

“Anak yang menjadi pelaku perundungan seringkali adalah korban dari pengalaman buruk yang tidak tertangani dengan baik,” jelasnya.

Namun, film Jumbo juga menampilkan sisi positif. Don, sebagai korban perundungan, tetap tumbuh ceria berkat dukungan emosional yang ia terima. Hal ini menunjukkan pentingnya membangun lingkungan yang aman dan suportif sebagai benteng perlindungan anak.

Wulan menegaskan bahwa orang tua perlu memahami bahwa setiap tindakan dalam proses pengasuhan, terutama di usia dini, berpengaruh besar terhadap masa depan anak. Ia mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kebutuhan psikologis anak, bukan hanya kebutuhan materi.

“Film ini mengingatkan kita bahwa membesarkan anak bukan hanya soal memberi, tapi juga hadir secara emosional dan konsisten mendampingi,” tutupnya. (*)

Exit mobile version