Sport  

Habis Hendra Ahsan Juara All England, Setahun Kemudian Ditendang Karena Covid10

Foto ID Card milik Hendra Setiawan di ajang All England 2021. All England jadi turnamen yang sangat membekas bagi Hendra Ahsan. (doc/instagram @hendrasansan)

JAKARTA – Turnament yang paling sulit terlupakan dalam perjalanan karier pasangan Hendra Ahsan, adalah All England. Di turnamen paling tua ini, ada kisah bahagia dan sedih yang pernah mereka alami.

Hendra Ahsan mengumumkan pensiun pada Desember 2024. Dan mereka juga sudah menjalani laga yang mengakhiri karier profesional, tepatnya di Indonesia Master 2025. Di laga terakhir ini, mereka kalah dari pasangan Malaysia Junaidi Arif/Roy King Yap.

Melihat jauh ke belakang, Hendra Ahsan pernah juara di All England, tepatnya pada 2019. Tentu saja, kemenangan ini sangat membekas di hati keduanya. Namun setelah itu, All England bukan lagi tempat ramah bagi Hendra Ahsan karena selalu gagal meraih puncak podium. Mereka bahkan pernah kalah dari adik sendiri, yakni pasangan Bagas/Fikri di tahun 2022 lalu.

Yang paling meyakitkan, tentu gelaran All England 2021. Karena ajang sebelumnya, The Daddies sudah jadi kampium. Tentu ada harapan besar mereka bisa mengangkat tropi kembali di penyelenggaraan berikutnya.

Namun, keduanya harus angkat koper lebih awal, dengan alasan yang membuat netizen tanah air marah besar.

Hendra Ahsan bersama seluruh kontingen PBSI, dipulangkan panitia karena satu pesawat dengan penumpang yang terpapar Covid19. Panitia harus mengisolasi para pemain selama 10 hari, atau sama saja tidak boleh bertanding.

Padahal mereka sudah menjalani pemeriksaan saat tiba di Birmingham dan hasilnya negatif. Keduanya pantas kaget karena mereka sudah sempat bertanding dan menang. Atas keputusan panitia, PBSI memutuskan untuk pulang ke tanah air.

Kenyataan pahit ini, membuat batminton lover tanah air meradang. Mereka lalu menyerbu akun media sosial milik BWF dan panitia All England. Serbuan ini sempat membuat akun Instagram @allenglandofficial, lenyap dari jagat maya. BWF lalu membatasi kolom komentar agar tidak menjadi serbuan atas kemarahan pecinta bulutangkis Indonesia. (*)

Exit mobile version