JAKARTA – Pemerintah Indonesia mengalihkan sebagian impor minyak mentah ke Amerika Serikat pasca penutupan Selat Hormuz oleh Iran guna menjaga pasokan BBM di dalam negeri. Kebijakan pengalihan impor minyak mentah ini untuk mengantisipasi gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz oleh Iran, buntut dari perang antara negara itu dengan AS dan Israel. Langkah tersebut secara otomatis mematikan pelayaran Selat Hormuz yang padat oleh kapal kargo pengangkut minyak mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pemerintah menjalankan skenario terburuk dengan mengurangi ketergantungan pada jalur distribusi di kawasan konflik. Pengalihan ini demi memastikan ketersediaan energi tetap aman.
“Melihat perkembangan global, penutupan Selat Hormuz akibat konflik ini berdampak signifikan pada energi dunia. Kami mengambil skenario terburuk dengan mengalihkan sebagian impor crude dari Timur Tengah ke Amerika Serikat demi kepastian ketersediaan,” ujar Bahlil.
Data Kementerian ESDM menunjukkan sekitar 20 hingga 25 persen total impor minyak mentah Indonesia bergantung pada distribusi melalui Selat Hormuz. Sementara itu, Indonesia memperoleh pasokan lainnya dari Afrika, Amerika Serikat, dan Brasil. Pemerintah memutuskan menyesuaikan strategi impor minyak mentah karena ketidakpastian durasi konflik dan tingginya risiko gangguan distribusi di jalur tersebut.
Pertamina mencatat, sekitar 19 persen kargo impor minyak mentahnya berasal dari Timur Tengah. Manajemen Pertamina langsung mengaktifkan protokol distribusi darurat untuk menjamin kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyatakan perusahaan menerapkan sistem distribusi reguler, alternatif, hingga emergensi untuk menjaga stabilitas pasokan.
“Kami telah menerapkan sistem reguler, alternatif, hingga emergensi untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi,” kata Baron.
Selain mengalihkan impor minyak mentah, Pertamina juga memantau empat kapal pengangkut minyak milik perusahaan yang berada di kawasan Timur Tengah. Dua kapal dilaporkan masih berada di dalam Selat Hormuz yang kini ditutup total. (*)
