JAYAPURA — Satgas Operasi Damai Cartenz mengungkap sumber senjata yang digunakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Dalam keterangannya, Kasatgas Ops Damai Cartenz 2025 Brigjen Pol Faizal Ramdhani menjelaskan secara rinci asal usul senjata KKB Papua tersebut.
Isu keamanan masih terus bergulir di wilayah timur Indonesia, tepatnya di Pulau Papua. Di sana, ada kelompok bersenjata dan sering terlibat kontak senjata dengan aparat keamanan.
Puncak konflik terjadi saat KKB menyandera pilot Susi Air, Kapten Philip Mark Mehrtens. Hingga TNI lalu menerjunkan pasukan gabungan untuk menggelar operasi di sana.
Menurut Faizal, senjata ini tidak hanya berasal dari hasil perampasan terhadap aparat keamanan. Namun juga berasal dari berbagai jalur, baik legal maupun ilegal, domestik maupun luar negeri. Sebagian lagi dari hasil pembelian langsung.
“Mereka membeli senjata, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Data yang kami dapatkan dari penangkapan pelaku memperlihatkan pola pembelian yang terorganisir,” ujarnya.
Satgas mencatat, sebagian senjata KKB Papua masuk melalui jalur Filipina dan Papua Nugini. Selain itu, jaringan pemasok senjata di dalam negeri juga terlibat dalam penjualan senjata api dan amunisi kepada kelompok separatis tersebut.
“Bulan Maret lalu, kami menyita 12 pucuk senjata api dan hampir 4.000 butir amunisi dari jaringan penjual senjata ilegal,” lanjutnya.
Selain pembelian, KKB juga memperoleh senjata dengan cara merampas milik TNI-Polri yang gugur dalam kontak senjata. Lebih parah lagi, KKB Papua mendapatkan senjata dari aparat yang membelot atau menjadi desertir.
“Sumber ketiga, dari desertir aparat keamanan yang membawa kabur senjata dan menyerahkannya ke KKB,” jelasnya.
Guna memutus rantai suplai senjata KKB Papua, Satgas Damai Cartenz terus melakukan pemantauan terhadap jaringan perdagangan gelap senjata. Salah satunya menutup jalur penyelundupan dari luar negeri.
“Kami intensifkan pengawasan. Bahkan telah mengirim personel sampai ke Sulawesi Utara dan Papua Nugini untuk memutus jaringan lintas negara ini,” tegasnya. (*)
