CILACAP – Keberadaan jembatan gantung merah putih di Cilacap, menjadi jawaban atas keluhan warga setempat. Terutama warga Desa Wringinharjo dan Bulusari di Kecamatan Gandrungmangu.
Penyebabnya tidak lain karena jembatan gantung sebelumnya, sering kali hanyut tiap kali debit air sungai naik drastis. Ini terjadi karena jembatan terbuat dari bambu.
Dan ini terjadi sejak bertahun-tahun lalu dan selalu terulang kembali. Tiap kali jembatan hancur, warga terpaksa membangun yang baru secara swadaya.
Sampai kemudian datang rencana dari Kodam IV Diponegoro, untuk membangun jembatan gantung merah putih di Cilacap. Jembatan ini menggunakan konstruksi baja dan beton, hingga jauh lebih kuat dari pada jembatan lama yang memakai bambu.
Melansir situs humas.cilacapkab.go.id, Senin (20/1/2025), Pangdam IV/Diponegoro Mayor Jenderal TNI Deddy Suryadi meresmikan Jembatan Gantung Merah Putih 8 di Desa Bulusari, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap. Hadir dalam kesempatan itu, Pj Bupati Cilacap M. Arief Irwanto bersama dengan Forkopimda Cilacap dan Forkopimcam Gandrungmangu.
Pangdam IV Diponegoro, Mayjen TNI Deddy Suryadi usai peresmian menjelaskan tentang nama jembatan gantung merah putih 8. Selain di Cilacap, jembatan serupa ada di Brebes, Tegal, Pemalang, Klaten, Batang dan lainnya.
“Ini merupakan jembatan kedelapan yang dibangun TNI di Jawa Tengah,” kata dia.
Indah Fayis, warga Desa Wringinharjo mengakui, keberadaan jembatan gantung merah putih ini sangat membantu warga 2 desa terebut.
“Dulu kan ada jembatan bambu. Tapi sering rusak. Kalau mau lewat bukannya cepet, tapi malah takut,” kata dia.
Tak jarang, warga dan anak sekolah harus mengambil rute memutar. Tentu hal ini membuat mereka kesulitan karena jarak dan waktu tempuh jadi bertambah. Atau, menggunakan jalur pipa air yang melintas di atas sungai.
“Kalau mau cepet ya pakai jalur pipa. Tapi setelah ada jembatan, semua jadi lebih mudah,” katanya. (*)
