JAKARTA – Mantan Menkopolhukam Mahfud MD secara terbuka mempertanyakan transparansi kontrak kereta cepat Whoosh antara Indonesia dan China. Ia menilai proyek strategis nasional itu menyimpan banyak ketidakjelasan, terutama terkait isi perjanjian yang sangat misterius.
“Kita belum tahu jelas isi kontrak Indonesia dan China dalam proyek ini, bahkan seorang anggota DPR mengatakan tidak tahu isi kontraknya,” ujar Mahfud MD di kanal YouTube miliknya.
Mahfud MD menilai kerahasiaan kontrak kereta cepat Whoosh menimbulkan kekhawatiran. Ini mengingat beban utang proyek tersebut mencapai sekitar Rp116 triliun. Ia menyebut pola ini mirip dengan praktik pinjaman luar negeri China terhadap sejumlah negara berkembang.
Mahfud lalu mengutip hasil riset Deutsche Welle berjudul China’s Secret Loans to Developing Nations pada 2021. Hasil riset ini menyebut, dari 142 perjanjian pinjaman antara bank-bank China dan 24 negara berkembang, sebagian besar mengandung klausul kewajiban menjaga rahasia.
Juga ada sejumlah klausul berisiko tinggi bagi negara peminjam. Seperti adanya intervensi kebijakan. Di kontrak ini mengijinkan China bisa memengaruhi kebijakan ekonomi luar negeri negara peminjam.
Lalu pemutusan kontrak secara sepihak oleh China. Ini dengan data loebih dari 90 persen kontrak memungkinkan China mengakhiri perjanjian. Hal ini akan terjadi jika muncul perubahan hukum atau kebijakan di negara penerima pinjaman.
China di kontrak, termasuk kereta cepat Whoosh selalu di posisi yang diuntungkan. Yakni negara peminjam wajib memprioritaskan pembayaran kepada bank-bank China dari pada kreditur lain. Dan jika terjadi pemutusan hubungan diplomatik, maka China menganggapnya sebagai wanprestasi.
“Jika terjadi pemutusan hubungan diplomatik, maka negara peminjam atau debitur dianggap wanprestasi,” kata Mahfud.
Ia mencontohkan kasus Pelabuhan Hambantota di Sri Lanka. Akibat gagal bayar, China menyita proyek tersebut.
Proyek Whoosh kembali mencuat setelah Menteri Keuangan Purbaya menolak membayar hutang menggunakan APBN. Hal ini memicu pemberitan yang mengulik kontrak kereta cepat Whoosh. Mulai dari pemecatan pejabat yang menolak hingga pengalihan kontrak dari Jepang ke China. (*)
