Krisis Air Bersih Ancam Maros, Sumur Warga Mengering

Seorang anak terpaksa mengambil air sungai saat kemarau panjang. Krisis air bersih kini mengancam warga di Maros, Sulawesi Selatan. (doc)

MAROS – Warga Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, terus menghadapi krisis air bersih. Ini setelah sumur tadah hujan yang biasa mereka andalkan mulai mengering akibat kemarau panjang.

Sudah hampir tiga pekan hujan tak turun. Warga menyaksikan debit air di sumur-sumur turun drastis.

“Air tersisa paling dua bulan ke depan. Kalau sudah habis, kami terpaksa beli air, padahal mahal,” ujar Deng Tayang, warga Cambayya.

Situasi krisis air bersih Maros bukan hanya berdampak pada ketersediaan air. Tapi juga kualitas air yang ada di sumur warga. Warna air sumur berubah keruh, kecoklatan dan mengandung lumut. Warga pun tidak berani menggunakannya untuk kebutuhan konsumsi. Mereka memilih membeli air isi ulang untuk minum dan memasak. Akibatnya, pengeluaran warga melonjak drastis karena harga air tergolong mahal.

BMKG Sulawesi Selatan memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus hingga September 2025. Dalam situasi ini, desa-desa yang mengandalkan air hujan paling rentan terdampak. Krisis air bersih di Maros pun semakin nyata, terutama di wilayah-wilayah seperti Cambayya yang tidak memiliki sumber air cadangan.

Warga mengaku kondisi ini sudah menjadi masalah tahunan. Namun tahun ini, kemarau datang lebih awal dan kemungkinan besar berlangsung lebih lama. Jika pemerintah daerah tak segera menyediakan solusi, seperti sumur bor atau distribusi air bersih, maka krisis air bersih Maros akan terus memaksa warga bertahan dengan cara mereka sendiri. (*)

Exit mobile version