News  

KTT ASEAN, Prabowo Setuju 2 Negara Masuk Jadi Anggota

ilustrasi

JAKARTA – Pertemuan para pemimpin di Konfrensi Tingkat Tinggi (KTT), Presiden Prabowo usulkan agar ASEAN menerima 2 negara jadi anggota baru. Para pemimpin ASEAN lalu sepakat untuk menerima 1 negara sebagai anggota baru.

KTT ASEAN berlangsung di Malaysia dan di hari pertama sudah ada pertemuan antar pemimpin negara. Dalam pertemuan itu, salah satu agendanya membahas anggota baru ASEAN.

Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan, dalam KTT ASEAN itu Prabowo memberikan intervensi dengan mengusulkan anggota baru yakni Papua Nugini. Negara yang bersebelahan dengan Papua ini, sejak 2018 mengajukan usulan untuk masuk ASEAN.

“Presiden Prabowo mengusulkan untuk pertimbangkan keanggotaan Papua Nugini. Sebagaia mana kita ketahui, Papua Nugini sudah mengajukan sebagai anggota sejak 2018,” kata Menlu.

“Dan tadi Pak Prabowo sampaikan itu dalam intervensinya,” kata dia.

Menurutnya, secara politis pemimpin ASEAN sudah sepakat dengan usulan anggota baru dari Timor Leste. Dalam KTT ASEAN ini, Prabowo bersama pemimpin lainnya sudah sepakat agar Timor Leste bisa secepatnya masuk sebagai anggota penuh.

“Harapannya nanti pada KTT ASEAN ke 47, Timor Leste sudah bisa menjadi anggota,” kata dia.

Dia menambahkan, Prabowo bersama kepala negara ASEAN sepakat lainnya juga membuat beberapa kesepakatan saat KTT. Seperti terus mempertimbangkan kondisi dan perkambangan terkini, sampai dengan berbagai dinamika yang terjadi di kawasan tersebut. Namun semuanya harus tetap mempertimbangkan kepentingan para anggota ASEAN.

“ASEAN ini merupakan wadah yang dinamis dan harus bisa sesuaikan perubahan dengan mempertimbangkan kepentingan negara anggota,” tegasnya.

Pertemuan tersebut juga membahas konflik yang tengah terjadi di Myanmar. ASEAN sepakat kalau masalah ini mencari langkah bersama untuk menyelesaikan konflik di Myanmar.

Sugiono menambahkan, para pemimpin ASEAN saat KTT juga sempakat untuk menjaga kekompakan. Hingga wilayah ini benar-benar bisa menjadi kekuatan ekonomi bersama, karena punya komoditas perdagangan.

“Kalau di lihat dari jumlah, potensi-potensi ini lebih besar dari pada kawasan lain dan ini jadi potensi ekonomi tersendiri,” tegasnya. (*)

Exit mobile version