JAKARTA – Patahan atau sesar di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tergolong “tidur” karena jarang sekali menimbulkan gempa. Sejak tahun 2000, tercatat “hanya” ada 2 kejadian gempa di Jateng dan DIY.
Pulau Jawa dengan populasi terbanyak di dunia, memiliki banyak patahan termasuk yang ada di Jateng dan DIY. Di Jateng dan DIY ini, banyak jalur patahan atau sesar yang bisa menjadi sumber gempa.
Akun Instagram @infogempadunia menyebut, dalam unggahananya menyebut ada puluhan jalur patahan di Jateng dan DIY.
Untuk Jawa Tengah, akun ini membagi dalam 3 zona. Pertama adalah Jawa Tengah bagian barat yang meliputi Kabupaten Brebes, Banyumas serta Cilacap. Patahan di sana, masih terhubung dengan yang ada di Jawa Barat, yakni Baribis-Kendeng, patahan Bumi Ayu, serta Patahan Citanduy.
“Patahan yang berpotensi lebih tinggi untuk menimbulkan gempa adalah Patahan Baribis-Kendeng, yang memanjang membelah Jawa Tangeh mulai dadi Brebes hingga Purwodadi,” tulis akun melansir sejumlah sumber.
“Gempa terakhir yang terkonfirmasi merusak dari patahan ini yaitu Gempa M4.5 pada 18 April 2018 yang dapat dirasakan pada skala maksimal MMI V dan merusak setidaknya 316 rumah di Brebes dan Tegal,” katanya.
Berikutnya ada wilayah Jateng bagian tengah. Di sana, Wonosobo menjadi daerah dengan potensi gempa paling tinggi. Banyak riwayat gempa yang terjadi di wilayah. Salah satu gempa terparah terjadi 2 kali pada 12 November 1924 dan 2 Desember 1924. Kedua gempa mengakibatkan setidaknya 1000 orang meninggal dan ribuan bangunan rusak.
Sementara Jawa Tengah bagian timur, potensi gempa lebih rendah dari barat. Wilayah ini meliputi Solo Raya, Grobogan, Sragen, Blora, Rembang, Pati, Kudus dan sekitarnya. Patahan Kendeng juga melintasi wilayah ini dan terbagi dalam segmen Semarang, Demak, Purwodadi dan Cepu.
Gempa Jogyakarta
Untuk Provinsi DIY, ada 3 patahan yaitu Opak, Dengkeng dan Merapi-Merbabu. Meski begitu, besar kemungkinan masih ada beberapa sesar aktif yang belum terpetakan.
Ketiga patahan di DIY ini, tidak terkoneksi dengan yang ada di Jateng, baik bagian barat, tengah ataupun timur.
Patahan Opak menjadi sesar paling berbahaya di wilayah ini. Buktinya adalah gempa berkekuatan 5.9 M pada Tahun 2006.
Gempa di 2006 menimbulkan korban jiwa sebanyak 6,234. Sementara korban luka mencapai antara 38,568 hingga 137,883 orang. Lalu ada 12.073 rumah rata dengan tanah, 1,950 rumah rusak parah. Gempa juga merusak sejumlah situs sejarah di Jogyakarta dan sekitarnya.
“Paling mematikan nomor 2 di Indonesia setelah gempa dan tsunani Aceh tahun 2004,” tulis akun tersebut. (*)
