News  

MUI Minta Dukungan Paus Leo XIV untuk Kemerdekaan Palestina

Paus Leo XIV, kini memimpin Vatikan. MUI berharap agar Paus Leo XIV dukung kemerdekaan Palestina. (doc/instagram)

JAKARTA – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan harapan besar kepada Paus baru, Leo XIV, agar turut mendorong perdamaian global dan kemerdekaan Palestina.

Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Sudarnoto Abdul Hakim, memberikan pernyataan di laman resmi MUI.

Sudarnoto mengucapkan selamat atas terpilihnya Kardinal Robert Francis Prevost sebagai Paus ke-267. Kardinal asal Amerika Serikat itu memilih nama Leo XIV sebagai nama kepausannya. Ini menandai babak baru kepemimpinan umat Katolik dunia sekaligus sebagai Kepala Negara Vatikan.

“Selamat mengemban amanah mulia, kami berharap kepemimpinan Vatikan ke depan memberikan harapan kedamaian tidak saja di kalangan masyarakat Katolik. Tapi juga di kalangan masyarakat beragama lain di berbagai wilayah dunia,” ujar Prof Sudarnoto.

Ia juga mendoakan agar Paus Leo XIV mendapatkan kekuatan dan kesehatan dalam menjalankan tugas kepausannya. Terutama dalam merespons berbagai persoalan kemanusiaan global, termasuk konflik berkepanjangan di Palestina, khususnya di Jalur Gaza.

“Semoga Paus Leo XIV juga menjadi trendsetter yang mengarahkan dunia baru yang merdeka, berdaulat, damai dan sejahtera. Semoga kepemimpinan baru Vatikan semakin kokoh dalam menghentikan kejahatan Israel,” lanjutnya.

Prof Sudarnoto juga menyoroti pentingnya peran moral dan politik Vatikan dalam meredam dampak kebijakan luar negeri destruktif. Seperti kebijakan Presiden AS Donald Trump dalam konflik Israel-Palestina.

Menurutnya, dunia kini menghadapi tantangan besar dari kekuatan negara yang bersikap intoleran dan merusak nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.

“Peradaban dunia saat ini sedang dicabik-cabik oleh kekuatan yang tidak memperdulikan ajaran agama, kemanusiaan, dan kerukunan antarkepercayaan. Yang ada hanya birahi imperialis, pendudukan, penghancuran, dan penguasaan. Ini adalah kesombongan yang harus di lawan bersama,” tegasnya.

Untuk itu, Prof Sudarnoto mengajak seluruh elemen lintas agama dan lintas peradaban untuk memperkuat solidaritas global dalam mewujudkan perdamaian dan keadilan.

“Sudah waktunya memperkokoh jaringan dan kerja sama tidak hanya antar pemeluk agama, tetapi juga antar kelompok masyarakat, golongan, dan peradaban yang berbeda,” tutupnya. (*)

Exit mobile version