News  

Peristiwa Isra Mi’raj. Ini Hasil Pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan Alloh SWT

ilustrasi

JAKARTA – Peristiwa Isra dan Mi’raj, salah satunya memastikan adanya perintah sholat. Perintah ini datang langsung dari Allah tanpa perantara.

Nabi Muhammad SAW selama berdakwah, kerap menerima perintah Alloh melalui Malaikat Jibril yang setia memberikan wahyu. Hingga kemudian turun ayat ayat Al Qu’ran secara utuh seperti sekarang ini.

Melansir laman muhammadiyah.or.id, ada hal berbeda saat peristiwa Isra dan Mi’raj. Alloh SWT memberikan keistimewaan bagi Nabi akhir jaman tersebut. Alloh memberikan kesempatan istimewa kepada manusia kesayangan-Nya di Sidratul Muntaha. Di tempat ini lah ada pertemuan antara Nabi Muhammad dengan Allah SWT.

Di pertemuan ini, turun perintah sholat bagi umat Rasululloh. Lalu, ayat-ayat terakhir dari Surah Al-Baqarah. Isinya tentang berisi rahmat, perlindungan dan doa pengampunan. Ketiga, Alloh mengampuni semua dosa manusia, kecuali kecuali syirik.

Isra dan Mi’raj sendiri merupakan peristiwa malam hari di bulan Rajab Mulai dari Masjidil Haram. Jibril datang menjemput Nabi Muhammad dan membawa Baitul Maqdis dan Masjidil Aqsa. Di sana, beliau memimpin salat bersama para Nabi terdahulu, Ibrahim, Musa, Isa, dan banyak lainnya.

Lanjut kemudian adala perjalanan Nabi bersama Malaikat Jibril Nabi Saw. Mereka menembus langit demi langit. Di langit pertama, mereka bertemu dengan Nabi Adam, lalu Nabi Isa dan Yahya di langit kedua. Pemberhentian terakhir adalah Sidratul Muntaha. Selama perjalanan menembus langit, Nabi SAW bisa melihat Surga dan Neraka dengan sangat jelas.

Peristiwa Isra Mi’raj terekam secara penuh dalam Surah Najm, terutama ayat 13 hingga 17.

Allah SWT berfirman:

Dan sungguh, dia (Muhammad) telah melihatnya (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratilmuntahā, di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratilmuntahā diliputi oleh sesuatu yang meliputinya, penglihatannya (Muhammad) tidak menyimpang dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. (QS. An-Najm: 13-17). (*)

Exit mobile version