News  

Prabowo Harus Waspada, Negara ASEAN Alami Krisis Beras

Presiden Prabowo saat melakukan tanam serempak di Banyuasin. Sejumlah negara di ASEAN mulai mengalami krisis produksi beras hingga mulai mengajukan impor beras ke Indonesia. (doc/setneg)

JAKARTA – Presiden Prabowo sudah seharusnya waspada karena beberapa negara ASEAN mulai mengalami krisis beras. Hingga sangat mungkin, dalam waktu dekat beras Indonesia akan menjadi primadona untuk mengatasi krisis di negara tetangga.

Tanda-tanda adanya krisis beras nampak saat Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohammad bin Sabu, berkunjung ke Indonesia. Datuk Seri Mohammad kepada media mengaku, tidak menutup kemungkinan Malaysia mengajukan permintaan impor beras ke Indonesia. Namun begitu, permintaan ini segera mendapatkan penolakan dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman.

Selain Malaysia, ada 3 negara lain yang mulai mengalami penurunan produksi beras dan bahkan sudah mengalami krisis. Pertama adalah Filipina. Negara ini menjadi pengimpor beras paling besar di dunia. Namun sejak awal tahun, pemerintah sudah sulit mengendalikan harga beras karena pasokan sangat terbatas.

Hingga pada Februari, pemerintah setempat mengumumkan status negara dalam kondisi darurat pangan akibat harga beras melambung tinggi. Bisa dibilang, Filipina sudah mendekati negara yang mengalami krisis beras. Pemerintah setempat lalu menurunkan tarif impor beras agar bisa mendalikan harga dan distribusi beras.

Negara berikutnya adalah Thailand yang mengalami penurunan produksi beras dan nilai ekspor. Dalam rentang 10 tahun terakhir, produksi beras di Negeri Gajah Putih ini nyaris tidak ada peningkatan. Rata-rata perhektar baru mencapai 2,4 ton.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, saat ini target utama Indonesia adalah swasembada pangan dan salah satunya beras.

Pihaknya menargetkan, Bulog bisa menampung beras sebanyak 3,3 juta ton pada awal Mei 2025. Hingga ini menjadi rekor pencapaian tertinggi dalam 10 tahun terakhir.

Dia menambahkan, serapan Bulog saat ini naik 2000 persen dari tahun sebelumnya. Data BPS menyebut, angka produksi beras tahun ini tertinggi selama 7 tahun terakhir.

Menteri Amran menyebut, untuk sementara Indonesia belum ada rencana untuk ekspor beras. Pemerintah terlebih dahulu fokus pada masalah menjaga ketersediaan dan keamanan stok dalam negeri terlebih dahulu. (*)

Exit mobile version