JAKARTA – Pemerintah menegaskan, tengah menyiapkan rencana untuk menyiapkan agar bisa produksi baterai motor. Ini dengan melihat populasi motor di tanah air yang mencapai 140 juta unit dan hampir tiap hari beroperasi di jalan.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia mengatakan, pemerintah sudah memikirkan langkah tersebut. Keputusan ini muncul usai rapat terbatas Presiden Prabowo Subianto dengan sejumlah menteri terkait.
“Kita sedang kembangkan ekosistim baterai mobil milik Indonesia. Selama ini kita bangun ekosistim baterai untuk mobil karena kita masih minoritas. Kita bikin mayoritas,” jelasnya di kanal youtube Sekretariat Presiden.
“Selama ini kita bangun ekosistem untuk mobil. Ke depan kita bangun untuk motor,” katanya.
Dia mengatakan, populasi motor di tanah air mencapai 140 juta dan beroperasi di jalanan. Seluruh motor ini masih menggunakan bahan bakar minyak sebagai sumber energi. Hal ini tentu menyedot subsidi karena motor masih mengkonsumsi bbm jenis subsidi.
Selain itu, langkah pemerintah untuk siapkan produksi baterai motor, menjadi bagian dari transisi energi. Dari energi non terbarukan ke sumber energi terbarukan. Dalam hal ini, motor listrik menjadi pilihan.
“Untuk pengurangan pemakaian BBM dan transisi energi,” katanya.
Dia berharap, pembangunan pabrik yang mampu produksi baterai mobil akan mulai pada Juni tahun ini. Menyusul kemudian, penyiapan agar Indonesia bisa produksi sendiri baterai untuk motor.
“Juni sudah ground breaking,” kata Bahlil.
Dia menambahkan, produksi baterai motor di dalam negeri sudah masuk dalam hilirisai energi yang menjadi program strategis Presiden Prabowo.
“Ini program prioritas Presiden,” kata Bahlil.
Dia menambahkan, pemerintah sudah merubah target program hilirisasi dari 21 bidang menjadi hanya 18. Seluruh bidang ini meliputi hilirasi nikel, bauksit, perikanan, pertanian, perkebunan, kehutanan, storage dan revenery.
Menurutnya, hilirsasi ini akan melibatkan perusahaan dalam negeri dan sebagian investasi berasal dari Danantara. Presiden berharap agar investasi yang masuk dari Danantara bisa mengusai saham mayoritas.
“Karena ini proyek Merah Putih. Artinya kita usahakan semaksimal mayoritasnya ada di negara,” tegasnya. (*)
