JAKARTA – Raja Tarumanegara, ternyata pernah punya cara sekaligus mengambil langkah pencegahan bencana untuk mengatasi banjir dan kesulitan air warga Bekasi. Dia sampai mengeruk sejumlah sungai atau melakukan normalisasi di sana. Hingga kapasitas sungai akan bertambah saat puncak musim penghujan, sekaligus mampu menyimpan air saat kemarau.
Banjir kembali melanda wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), Selasa (4/3/2025). Kota Bekasi menjadi lokasi paling parah terdampak banjir tersebut. Peristiwa ini bukanlah hal baru, mengingat banjir di kawasan tersebut sudah tercatat sejak abad ke-5.
Laman nu.go.id menuliskan berita dengan judul “Arkeolog Ungkap Pengendalian Banjir Era Tarumanegara yang Bisa Diterapkan Saat Ini”
Dalam berita itu, arkeolog Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Harry Sofian menegaskan, banjir sering melanda Bekasi sejak masa lamapu. Hal ini membuat warga memiliki cara berfikir dan bertindak serta strategi mengatasi banjir di Bekasi. Sekaligus menjadi cara tersendiri dalam pengelolaan air masyarakat Sunda Kuno.
“Terdapat beberapa bukti arkeologis yang menunjukkan pola banjir di Bekasi sejak masa lalu. Misalnya, prasasti Tugu yang berasal dari abad ke-5 Masehi menyebutkan bahwa Raja Purnawarman menggali Sungai Candrabaga (kali Bekasi) dan Sungai Gomati (Kali Cakung) untuk mengatasi banjir dan kekeringan,” katanya.
Menurut Harry, warga dan pemerintah bisa belajar dari sejarah terkait praktik pengelolaan air dari masa lalu. Dia melihat cara ini masih efektif dan relevan hingga sekarang. Seperti sistim pengelolaan air milik masyarakat Sunda Kuno di Bekasi. Masyarakat ini sudah mampu membuat saluran air dan bendungan.
“Yang seperti ini masih bisa kita gunakan sebagai sumber inspirasi untuk pengelolaan air,” tegasnya. (*)
