GROBOGAN – Polisi terus menyelidiki kasus siswa SMP Grobogan tewas yang berinisial ABP. Korban meninggal dunia setelah diduga menjadi korban bullying di sekolahnya. Keluarga mengungkapkan adanya sejumlah luka serius di tubuh siswa SMP tersebut.
Ayah korban, Sawindra (38), menceritakan awal mula keluarga mengetahui kabar siswa SMP Grobogan tewas itu. “Katanya ABP pingsan dibawa ke puskesmas. Kemudian si nenek langsung menghubungi kakek, dan kakek Angga menghubungi saya,” ujar Sawindra, Senin (13/10).
Setelah mendapat kabar, keluarga dan perangkat desa langsung menuju RSUD Dr R Soejati S Grobogan, tempat tenaga medis menangani siswa SMP yang kemudian meninggal dunia. Dokter menjelaskan bahwa korban mengalami luka memar di kepala dan dada, serta patah tulang di bagian belakang bawah otak. “Itu yang paling fatal,” ungkap Sawindra.
Dugaan Pengeroyokan di Sekolah
Sawindra menduga teman-teman sekolah siswa SMP Grobogan menganiaya ABP sampai tewas. “Yang saya dengar itu ABP sempat dibanting ke lantai, dijedotkan ke tembok, sampai teman-temannya mengeroyoknya di sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, perundungan terhadap siswa itu bukan kali pertama terjadi. Dua bulan sebelumnya, teman-teman korban pernah mengeroyoknya hingga membuat dia takut masuk sekolah. “Awalnya dia nggak mau cerita, tapi setelah dibujuk neneknya, dia akhirnya mengaku,” kata Sawindra.
Pihak keluarga sudah melaporkan kasus pertama perundungan itu ke sekolah. “Neneknya langsung datang ke sekolah dan bilang kalau ABP mengalami hal seperti itu. Katanya pihak sekolah akan menangani masalah itu,” jelas Sawindra. Namun, setelah laporan itu, tidak ada tindak lanjut.
Kini keluarga menuntut keadilan bagi siswa SMP Grobogan tewas tersebut. “Kami ingin polisi mengungkap kasus ini seterang-terangnya. Yang bersalah harus tetap dihukum,” tegas Sawindra.
Sekolah dan Polisi Angkat Bicara
Kepala sekolah tempat siswa SMP Grobogan itu belajar, Sukatno, menyampaikan duka cita mendalam. “Kami pihak sekolah sangat berduka cita atas peristiwa ini. “Pihak sekolah dan aparat berwenang sudah menangani semuanya dan mengurus prosesnya,” ujarnya di sekolah, Senin (13/10).
Sukatno menyebut, polisi sudah memeriksa sejumlah guru dan murid terkait siswa SMP tewas tersebut. “Guru ada empat termasuk saya, siswanya ada lima. “Pihak kepolisian memeriksa mereka secara terpisah,” katanya.
Sementara itu, Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto menjelaskan bahwa siswa SMP tewas itu sempat terlibat dua kali perkelahian sebelum meninggal dunia. “Pagi hari itu korban sempat berkelahi dengan satu anak. Lalu siangnya sebelum meninggal, korban berkelahi lagi dengan anak yang lain,” terang Artanto.
Artanto menyebut, dalam perkelahian kedua, siswa SMP itu jatuh terlentang dan kejang. “Petugas sekolah membawa korban ke UKS lalu ke rumah sakit, tapi tenaga medis tidak berhasil menyelamatkan nyawanya,” ujarnya.
Polisi telah memeriksa kepala sekolah, guru, dan dua siswa yang terlibat dalam kasus siswa SMP Grobogan tewas tersebut. “Kami masih mendalami dan menyelidiki kasus ini secara menyeluruh,” tegas Artanto. (*)
