JAKARTA – Meski sebagian daerah di Indonesia sudah masuk musim kemarau, tapi masih ada hujan turun dengan berbagai intensitas. Hujan ini kerap terjadi pada sore atau malam hari. Sementara siang, udara terasa lebih panas.
Laman bmkg.go.id menyebut, dalam beberapa pekan terakhir cuaca panas terik pada siang hari. Namun sering terjadi hujan pada sore atau malam. Hal ini merupakan ciri khas masa peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Dalam sepekan terakhir, hujan dengan intensitas sangat lebat tercatat di beberapa wilayah. Seperti di Jembrana, Bali pada 9 Mei 2025 di Kab. Jembrana, Bali. Atau di Kota Tangerang Selatan pada 10 Mei di Kota Tangerang Selatan. Lalu di Kabupaten Sleman, Merauke, dan Kabupaten Kota Waringan Barat pada 14 Mei 2025.
“Berdasarkan analisis klimatologi terkini, sebanyak 403 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 57,7% wilayah Indonesia akan memasuki musim kemarau pada periode April hingga Juni 2025. Wilayah Nusa Tenggara diperkirakan menjadi yang paling awal mengalami musim kemarau,” tulis BMKG.
Meski demikian, akumulasi curah hujan selama musim kemarau diperkirakan berada pada kategori normal, tanpa kecenderungan lebih basah atau lebih kering. Puncak musim kemarau akan terjadi pada bulan Agustus dan akan berlangsung lebih singkat dari biasanya.
Kondisi atmosfer yang labil pada masa transisi ini berpotensi memicu terbentuknya awan konvektif seperti Cumulonimbus (CB), yang dapat menyebabkan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es.
Juga dengan melihat dinamika atmosfer dan labilitas sedang hingga kuat di sejumlah lokasi, masih memungkinkan adanya hujan saat musim kemarau. (*)
