JAKARTA – Komentator sepak bola, Justinus Lhaksana berharap Indra Sajfri mau rubah pola Timnas U-20. Caranya dengan memasang 4 bek di belakang, dan bukan 3 bek.
Langkah pertama Timnas U-20 di Piala Asia, berakhir dengan kekalahan telak 0-3 dari Iran. Gol Iran lahir dari pemain Nafari Nogourani (5), Mobin Dehghan, gol cantik Esmail Gholizadeh (63) dan Mobin Dehghan (70).
Bertanding di Stadion Shenzen Youth Football Training Base Centre, Timnas lebih banyak tertekan berkat pressing ketat lawan. Tiap kali pemain Indonesia membawa bola, selalu ada 2 pemain Iran yang mendekat.
Dalam laga ini, pelatih Timnas U-20 menerapkan pola 3-4-3 dengan harapan mampu meredam lini tengah lawan. Namun, sistim ini tidak sesuai dengan kondisi pemain Timnas U-20. Mereka justru kalah di lini tengah, dan sering sekali kehilangan bola.
“Kita bermain dengan 3 4 3, yang menurut gue, itu ga cocok dengan pemain Timnas Indonesia,” katanya di kanal youtube Justinus Lhaksana.
Melihat ini, Coach Justin menyarankan agar Timnas U-20 untuk rubah pola saat melawan Usbekiztan. Terutama jika ingin meraih poin dari juara Piala Asia U-20 edisi 2023.
“Sekali lagi, mainkan sesuai kapasitas. Pola 4-3-2-1, 4-3-3, what everlah,” katanya.
Laga saat lawan Iran, stratategi timnas bukan khas Indra Sjafri. Tapi lebih mirip dengan pola Timnas U-20 saat di ajang serupa edisi 2023.
“Ini bukan strategi yang biasa diterapkan Indra Sjafri,” kata dia.
Perbaikan Timnas U-20 Saat Lawan Usbekiztan
Jika Timnas U-20 ingin mencuri poin saat lawan Usbekistan, butuh banyak pembenahan. Termasuk menjaga jarak antar lini yang terlihat sangat jauh saat laga melawan Iran.
Dia juga melihat, pemain Timnas U-20 juga punya peluang yang semuanya dari skema bola pendek. Ini terlihat pada babak kedua, saat pemain Indonesia mampu memegang bola lebih lama.
Dia menyarankan, agar jarak antar lini juga harus lebih dekat. Dengan demikian, kesalahan umpan atau umpan yang terpotong lawan, bisa berkurang drastis. Ujungnya adalah timnas bisa lebih pegang bola dan menciptakan peluang.
“Akurasi akan lebih bisa ditingkatkan jika jarak deket,” katanya.
Dan saat jarak antar lini lebih dekat, maka pergerakan seluruh tim akan lebih mudah. Hingga pemain bisa melihat celah dan membuka ruang untuk menciptakan peluang.
“Kalau jaraknya dekat, gesernya gampang,” katanya.
Bagi Justin, kekalahan terjadi karena Iran lebih banyak menyerang dengan umpan panjang dan umpan silang. Sementara skema serangan umpan pendek di tengah, sangat jarang terjadi.
“Berapa peluang Iran dari set play lini tengah? Satu kena tiang, satu ke atas. That’s it. Ga banyak juga,” tegasnya. (*)
