JAKARTA – Proyek pembangunan Tol Pejagan-Cilacap masih menjadi sorotan masyarakat Jawa Tengah. Meski direncanakan sejak 2016, proyek ambisius ini sempat menghilang dari prioritas pembangunan infrastruktur. Proyek sepanjang 142,2 km ini masuk dalam rencana pembangunan nasional periode 2025-2029.
Jalur Pejagan-Cilacap maupun menuju Purwokerto, ada titik kemacetan di ruas antara Ajibarang dan Bumiayu. Penyebabnya karena banyak faktor. Pertama yakni peningkatan arus kendaraan seperti saat arus mudik maupun balik. Di ruas ini juga ada beberapa SPBU, persimpangan dan juga tempat wisata.
Hingga otomatis di tiap titik ini, akan selalu ada kendaraan keluar masuk dan meningkatkan potensi kemacetan.
Anggota Komisi VI DPR RI, Sturino, menegaskan pentingnya pembangunan jalan tol Pejagan-Cilacap ini untuk mengurangi kemacetan di jalur Brebes, Bumiayu, hingga Purwokerto.
“Selain membuka akses antarwilayah, tol ini akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi di daerah yang dilintasi,” ujar Anggota DPR RI, Sturino.
Proyek ini akan menghubungkan wilayah strategis dengan delapan simpang susun (interchange/IC) dan tiga junction (GC), antara lain:
- GC Brebes
- IC Dukuhwaru
- IC Lebaksiu
- IC Margasari
- IC Bumiayu
- IC Ajibarang
- IC Purwokerto
- IC Purbalingga
- GC Mangan
- GC Cilacap
Proyek Tol Pejagan-Cilacap ini membutuhkan investasi sebesar Rp75,81 triliun dan termasuk biaya konstruksi Rp 43,53 triliun. Segmen awal sepanjang 36 km, yang mencakup wilayah Brebes hingga Bumiayu.
Namun, tantangan terbesar saat ini adalah penetapan lokasi pasti jalur tol, yang masih dalam tahap pembahasan. Bumiayu belum memiliki kepastian terkait trase tol yang akan dilalui.
Sturino berjanji akan mendorong percepatan proyek ini. Tol Pejagan-Cilacap diproyeksikan tidak hanya mengurangi kemacetan tetapi. Tapi jadi penghubung yang lebih baik antar wilayah di Jawa Tengah.
“Realisasi proyek ini akan menjadi dorongan besar bagi perekonomian Jawa Tengah, terutama di daerah yang selama ini sulit terakses,” ujar Sturino. (*)
