CILACAP – Sholat tarawih di 1 masjid biasanya hanya ada 1 imam saja. Imam ini juga memimpin sholat isya secara berjamaah. Baru berlanjut ke sholat tarawih. Namun di Masjid Mujahidin yang ada di Desa Jenang Kecamatan Majenang, Cilacap, selalu ada 2 orang yang memimpin sholat tarawih.
Sholat tarawih, salah satu sholat malam yang menjadi ibadah selama bulan puasa. Warga muslim melakukannya secara berjamaah di masjid atau mushola.
Ormas seperti NU dan Muhammadiyah memiliki pandangan berbeda tentang rakaat dari sholat ini. Muhammadiyah berpandangan sholat tarawih dan witir hanya 11 rakaat. Sementara NU berpendapat berbeda yakni 21 atau 23 rakaat untuk sholat ini.
Mendasari perbedaan inilah, BKM Masjid Mujahidin lalu bermusyarawarah dengan ormas seperti NU dan Muhammadiyah pada 2000. Kedua ormas ini tetap ingin masyarakat bisa sholat tarawih sesuai pendapat induk organisasi masing-masing. Untuk warga NU, tentu lebih memilih 21 rakaat. Sementara warga Muhammadiyah memilih 11 rakaat.
Syaiful Anam, salah satu imam Masjid Mujahidin mengatakan, BKM dan perwakilan ormas pada akhirnya sepakat. Yakni sholat tarawih dengan melibatkan 2 imam sekaligus. Imam pertama akan memimpin sholat isya sekaligus tarawih sampai memasuki rakaat ke 8. Setelah 8 rakaat, akan ada imam ke dua yang memimpin jamaah.
“Setelah 8 rakaat jamaah turun ke lantai 1 untuk ikut sholat witir. Nanti ada imam tersendiri. Ini untuk mengakomodir keinginan masyarakat yang ingin sholat tarawih 11 rakaat,” kata dia.
Dengan demikian, di Masjid Mujahidin selalu ada 2 imam sholat tarawih selama bulan puasa. Mereka akan bertugas secara bergantian dan menjadi imam sholat isya, tarawih hingga witir.
“Ya, tiap malam selalu ada 2 imam,” kata dia.
Dia meyakini, kebijakan seperti ini mampu mengakomodir kepentingan semua golongan. Apalagi, masjid ini banyak menjadi tujuan warga untuk sholat wajib maupun sunah. Dan mereka berasal dari berbagai golongan dan latar belakang beragam.
“Semua terakomodir,” tegasnya. (*)
