JAKARTA – Menitipkan orang tua ke panti jompo sering memicu perdebatan sosial dan batin. Sebagian anak memilih keputusan ini karena tidak mampu merawat orang tua mereka akibat keterbatasan finansial atau beban pekerjaan, meskipun mereka menyadari bahwa agama dan nurani mendorong untuk merawat secara langsung.
Dalam Islam, Allah SWT secara tegas memerintahkan anak agar tidak menitipkan orang tua sembarangan. Al-Qur’an dalam Surah Al-Isra ayat 23 memerintahkan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, bahkan melarang berkata “ah”, apalagi membentak, saat mereka memasuki usia lanjut.
Ibnu Katsir, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa Allah mengaitkan ibadah kepada-Nya dengan berbakti kepada kedua orang tua. Maka, ketika anak menitipkan ke panti hanya karena merasa terganggu, mereka telah melalaikan kewajiban besar dalam Islam.
Ath-Thabari menegaskan bahwa anak harus sabar menghadapi kerepotan orang tua yang telah lanjut usia. Ia menyampaikan bahwa jika anak menitipkan orang tua hanya karena merasa jijik atau tidak nyaman. Maka tindakan itu mencerminkan ketidaksabaran dan berpotensi menjadi bentuk kedurhakaan.
Berdasarkan tafsir Ath-Thabari, anak yang menitipkan orang tua karena alasan ingin melepaskan tanggung jawab moral, bisa terkena ancaman su’ul khatimah.
Meski demikian, syariat tetap memberi ruang bagi anak yang menitipkan ke panti jompo karena alasan darurat, seperti kebutuhan perawatan medis khusus. Tersebut tidak dianggap sebagai bentuk kedurhakaan.
Di sisi lain, beberapa anak menitipkan orang tua demi memberikan mereka lingkungan yang lebih aktif dan sosial. Di panti jompo yang profesional, lansia dapat bersosialisasi dan menjalani hidup yang lebih terstruktur serta mendapat perhatian khusus dari tenaga medis.
Menitipkan Orang tua
Banyak lansia merasa lebih dihargai ketika anak-anak mereka menitipkan orang tua ke lembaga yang aman, Dibanding membiarkan mereka. Selama anak tetap menjaga komunikasi, kasih sayang, dan perhatian, mereka tetap menjalankan birrul walidain dengan baik.
Meski sudah menitipkan ke panti jompo, anak tetap memikul kewajiban untuk menjenguk secara rutin, dan memperhatikan kondisi fisik dan emosional mereka. Jangan sampai orang tua merasa kespian hanya karena berpindah tempat tinggal.
Meskipun anak menitipkan ke panti jompo, mereka tetap dapat menjaga nilai-nilai birrul walidain asalkan terlibat aktif dalam kehidupan orang tua. Memastikan mereka hidup dengan penuh cinta, perhatian, dan kehormatan. (*)
