JAKARTA – Isu panas terkait calon petinggi Danantara, mulai beredar. Beberapa nama bahkan sudah sempat bertemu dengan Presiden Prabowo di Jakarta, beberapa hari sebelum pengumuman resmi.
Presiden Prabowo Subianto mendeklarasikan pendirian Danantara. Lembaga ini akan mengkonsolidasikan semua kekuatan ekonomi negara yang selama ada dalam pengelolaan BUMN. Danantara diharapkan akan menjadi kekuatan ekonomi dalam negeri di masa depan.
Nama yang mulai sebagai calon petinggi Danantara, sepertinya sudah ada di kantong Presiden Prabowo. Sebut saja Ignasius Jonan. Dia pernah merombak PT KAI dan berlanjur menjadi Menteri ESDM. Lalu ada Rosan Perkasa Roeslani yang kini menjabat Menteri Investasi dan Hilirisasi dan Kepala Badan Penanaman Modal. Nama berikutnya adalah Pandu Sjahrir. Dia menjadi sosok kuat karena pernah menerima undangan makan siang bersama Presiden Prabowo.
Sementara nam lain ada Agus Martowardojo, mantan Gubernur BI ataupun mantan Presiden Direktur Bursa Efek Jakarta, Erry Firmansyah.
Eks Sekretaris BUMN, Muhammad Said Didu mengaku mengenal beberapa nama yang sudah beredar. Namun dia mensyaratkan sosok pemimpin di Danantara, bukanlah pembuka jalan bagi intervensi dari luar.
“Saya setuju dengan nama-nama tadi. Tapi saya yakin ini orang-orang yang paling tidak disukai oleh pelaku intervensi,” katanya di podcast Akbar Faisal Uncensored.
Menurutnya, calon petinggi Danantara memang harus sosok yang bebas dari intervensi, atau kepentingan politik tertentu. Karena ini justru akan mengganggu fokus utama dari Danantara, yakni mengelola aset negara untuk mendapatkan kepercayaan publik.
“Apabila nanti Presiden Prabowo mengangkat orang-orang, ini jadi jendela intervensi, yang tingkat kepercayaannya (rendah), bahwa ini ada ruang intervensi, maka (investor) ini akan menarik (diri),” katanya.
Menurutnya, saat ini Presiden Prabowo harus mampu memberikan kepercayaan agar investasi bisa masuk ke dalam negeri. Salah satunya dengan mencari sosok yang terbebas dari segala bentuk intervensi luar.
“Yang bisa selamatkan ekonomi adalah investasi luar. Jika gagal atau pergi, maka ekonomi Indonesia akan ambruk. Karena ekonomi domsetik sudah habis untuk (bayar) utang negara,” terangnya. (*)
