CILACAP – Pemanfaatan lahan pekarangan rumah dan rumah ibadah menjadi strategi menghadapi fluktuasi harga pangan. Terlebih saat lonjakan harga selama puasa ramadan maupun menjelang hari raya Idul Fitri. Upaya tersebut mengemuka dalam Workshop Tanaman Cabai dalam Pot (Tacab Polybag) yang berlangsung di Masjid Mujahidin, Majenang, Cilacap, Selasa (27/1/2026). Kegiatan ini melibatkan jemaah masjid, Muslimat NU, siswa SMK Komputama, serta mahasiswa Universitas Komputama (UNIKMA) Cilacap dengan fokus program tanam cabai di masjid.
Penyelenggara menginisiasi kegiatan ini melalui kolaborasi lintas sektor antara Tim Masjid Agung Baitussalam, Ikatan Remaja Masjid Mujahidin (Irmamuja), Universitas Komputama (UNIKMA) Cilacap, dan Tim Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto.
Pakar Pemuliaan Tanaman Unsoed Purwokerto, Prof. Ir. Totok Agung Dwi Haryanto, M.P., Ph.D., menjelaskan bahwa gerakan tanam cabai di masjid memberikan manfaat ekonomi dan psikologis bagi masyarakat. Ia menegaskan cabai sering memicu inflasi karena harganya fluktuatif.
“Menanam cabai di pot atau polybag adalah langkah konkret untuk ketahanan pangan keluarga. Jika ini dilakukan secara masif berbasis komunitas masjid, keuntungan ekonominya akan sangat terasa karena masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada harga pasar,” ujar Prof Totok seusai workshop.
Ia juga menilai kegiatan bercocok tanam menghadirkan ketenangan sekaligus memperindah lingkungan masjid.
“Bercocok tanam itu menenangkan. Ini adalah cara kita melipur kerinduan terhadap alam dan tanah, sekaligus menjadikan lingkungan masjid lebih asri dan produktif,” tambahnya.
Wakil Rektor Universitas Komputama, Kusnana, MKom, menyatakan program ini menjadi implementasi peran perguruan tinggi dalam pendampingan masyarakat dengan mengandeng masjid. Akademisi terlibat langsung dalam edukasi dan praktik lapangan.
“Ini wujud kolaborasi antara kampus dengan masjid dan masyarakat sekitar. Saya berharap ini tidak berhenti di jemaah Masjid Mujahidin, melainkan meluas hingga ke masjid dan musala lainnya,” kata Kusnana.
Kemakmuran Masjid
Penyelenggara memberikan materi teori dan praktik, mulai dari pembibitan, pemupukan, hingga pengendalian hama pada media terbatas. Panitia juga membagikan sekitar 2.000 bibit cabai siap tanam beserta polybag kepada peserta.
Ketua Irmamuja, Ahmada, menyebut, Masjid Mujahidin bisa menjadi pelopor gerakan “Masjid Hijau” di wilayah Majenang.
Ia menilai kemakmuran masjid bisa terlihat dalam kemandirian ekonomi jamaah melalui program tanam cabai di masjid. (*)
