JAKARTA — Umat Islam di seluruh dunia tengah memasuki Hari Tasyrik, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah dalam kalender Hijriyah, yang tahun ini jatuh pada 17–19 Juni 2025. Hari-hari ini merupakan bagian penting dari rangkaian ibadah Idul Adha. Nabi Muhammad SAW menegaskannya sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.
hadis yang riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR. Muslim no. 1141).
Hadis ini menjadi dasar larangan berpuasa selama tiga hari tersebut. Sekaligus seruan untuk mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah.
Secara bahasa, tasyrik berasal dari kata syarraqa yang berarti menjemur di bawah sinar matahari. Ini mengacu pada tradisi kaum Muslimin di masa lalu yang menjemur daging kurban agar tidak mudah rusak.
Dalam konteks ibadah, Hari Tasyrik merupakan kelanjutan dari ritual haji. Jamaah haji masih berada di Mina untuk melaksanakan mabit dan melontar jumrah. Sementara umat Islam lainnya masih diperbolehkan menyembelih dan membagikan hewan kurban hingga 13 Dzulhijjah.
Ayat Al-Qur’an yang turut menjadi landasan adalah QS Al-Baqarah ayat 203. “Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang berbilang,”. Ibnu Abbas mengintepretasikan “hari-hari yang berbilang” sebagai Hari Tasyrik.
Ulama sepakat bahwa berpuasa pada Hari Tasyrik hukumnya haram. Kecuali bagi jamaah haji yang tidak memiliki hewan kurban, seperti yang ada dalam QS. Al-Baqarah: 196.
Ulama sangat menganjurkan agar umat Islam memperbanyak dzikir. Termasuk mengucapkan, Takbir muqayyad setiap selesai salat wajib sejak Subuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Juga dengan membaca tasbih, tahmid, tahlil, dan istighfar. Ulama juga meminta umat muslim untuk memperbanyak doa sebagai bentuk syukur dan penghambaan.
Hari Tasyrik juga menjadi simbol keseimbangan antara kenikmatan duniawi dan spiritualitas. Islam mengajarkan bahwa makan dan minum yang halal bisa menjadi ibadah jika disertai niat dan dzikir. Selain itu, distribusi daging kurban selama Hari Tasyrik mencerminkan nilai solidaritas dan kepedulian terhadap sesama. (*)
