JAKARTA – Manusia makan, berkembang biak, dan berpikir, sama seperti hewan. Namun, manusia mengandalkan akal untuk membedakan benar dan salah. Ketika seseorang memilih bunuh diri, ia telah menolak peran akal sebagai penuntun menuju kebaikan.
Imam Fakhruddin ar-Razi menegaskan bahwa manusia dan hewan sama-sama memiliki pancaindra serta daya pikir. Namun, manusia memaksimalkan akal sehatnya untuk mengenali dan menjalankan kebenaran. Seseorang menyia-nyiakan nikmat akal saat memilih bunuh diri.
Allah memberikan akal agar manusia melaksanakan ibadah dan kebaikan selama hidup. Allah memberikan pahala untuk yang taat dan hukuman untuk yang durhaka. Ketika seseorang memilih bunuh diri, dia justru menolak amanah yang Allah titipkan padanya.
Sebagian orang melontarkan pertanyaan, “Bolehkah saya bunuh diri tidak ingin dosa karena takut terus berbuat maksiat?” Mereka menunjukkan pola pikir keliru. Islam tidak pernah membenarkan menghindari dosa dengan kematian, justru Islam menawarkan tobat sebagai solusi.
Allah membuka jalan tobat bagi semua hamba yang bersungguh-sungguh ingin kembali. Maka, manusia seharusnya memilih tobat, bukan bunuh diri, karena Allah mencintai hamba yang mau berubah.
Nabi mengajarkan tobat
Nabi Muhammad SAW menggambarkan kegembiraan Allah saat seorang hamba bertobat. Allah lebih gembira daripada orang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir. Maka, orang yang berpikir bunuh diri telah melawan cinta kasih Allah kepada hamba-Nya.
Nabi mengajarkan bahwa Allah menyambut tobat dengan penuh kasih sayang. Bahkan saat hamba-Nya merasa putus asa, Allah tetap mengampuni. Jika seseorang memilih bunuh diri, maka dia telah menyerah dan menolak peluang kembali.
Sebagian orang berkata, “Lebih baik mati daripada hidup penuh dosa.” Mereka sebenarnya telah kehilangan harapan atas rahmat Allah. Padahal, Islam menyebut orang terbaik adalah yang panjang umur dan banyak amalnya. Mereka yang memilih bunuh diri tidak ingin dosa telah gagal memahami makna hidup.
Nabi menyebut orang terbaik sebagai yang panjang umur dan terus beramal baik. Jadi, orang yang hendak bunuh justru melewatkan peluang menumpuk pahala.
Imam Al-Munawi menyatakan bahwa usia panjang memungkinkan manusia mengumpulkan lebih banyak pahala dan derajat tinggi di sisi Allah. Jika seseorang memilih bunuh diri, maka dia telah menutup pintu amal yang luas.
Ketika orang takut su’ul khatimah, mereka seharusnya memperkuat keimanan dan amal, bukan menyerah. Mereka yang memilih bunuh diri sebenarnya bertindak karena takut, bukan karena iman yang kuat.
Melakukan bunuh diri
Allah menciptakan dan memiliki seluruh nyawa makhluk di bumi. Tidak ada manusia yang berhak mencabut nyawanya sendiri. Maka, orang yang melakukan bunuh diri tidak ingin dosa telah merebut hak Allah sebagai pemilik kehidupan.
Setiap manusia wajib memaknai hidup sebagai nikmat, bukan beban. Ketika seseorang ingin bunuh diri, berarti dia menolak kesempatan memperbaiki diri yang Allah berikan setiap hari.
Islam mengajarkan harapan, perjuangan, dan jalan tobat, bukan kesempurnaan mutlak. Maka, orang yang berpikir bunuh diri tidak ingin dosa harus mengganti keputusasaan itu dengan iman dan semangat memperbaiki diri. (*)
