News  

Jumlah Warga Cibeunying yang Harus Relokasi Bisa Berubah, Usai Survey Tim PVMBG

Petugas dari PVMBG Kementerian ESDM, menerbangkan drone dengan tekhnologi Light Detection and Ranging (LIDAR). Alat ini bisa melihat secara detail dan memastikan jumlah warga Desa Cibeunying yang harus relokasi dari lokasi longsor. (doc/istimewa)

CILACAP – Jumlah warga yang harus relokasi akibat tanah longsor di Desa Cibeunying, bisa saja berkurang. Ini berkat penggunaan alat penginderaan jarak jauh milik Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dari Kementerian ESDM.

Tim PVMBG sebenarnya sudah mulai bergerak di lokasi longsor di Cilacap sejak Senin (24/11/2025). Mereka mendata sejumlah lokasi tanah bergerak atau longsor. Seperti di Desa Cibeunying, Bener, Padangjaya dan lainnya.

Tim tersebut menggunakan drone tipe Light Detection and Ranging (LIDAR) yang mampu melihat lokasi bencana tanah longsor secara lebih detail. Bahkan hasilnya bisa berbentuk peta 3 dimensi.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Cilacap, Purwanto Kurniawan mengatakan, Tim PVMBG sudah mengoperasi drone LIDAR di Desa Cibeunnying, Kamis (27/11/2025).

“Tadi kami mendampingi Tim PVMBG dari Kementerian ESDM melakukan research menggunakan LIDAR,” katanya.

Dia menjelaskan, hasil dari penginderaan jarak jauh ini akan lebih maksimal. Karena alat ini bisa melihat lebih detail. Termasuk menembus wilayah yang rimbun dengan pepohonan atau dedaunan yang kadang sulit terlihat dengan mata biasa.

Alat ini juga bisa melihat rumah warga yang berada di zona merah, dekat dengan retakan ataupun berada di lokasi aman. Dengan demikian, angka atau jumlah warga Desa Cibeunying yang harus relokasi bisa saja berkurang.

“Bisa saja berkurang dari saat ini yang mencapai 296 unit rumah. Secara kasar, tadi Tim bilang bisa kurang dari angka itu,” tegasnya.

Mayoritas warga Desa Cibeunying yang harus relokasi berasal dari Dusun Tarukahan dan Cibuyut. Dari 296 rumah ini, sebagian berada di longsor dan sisanya berada di daerah terancam. (*)

Exit mobile version