Kasus Harun Masiku Termasuk Receh Tapi Dampaknya Besar

Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo. Kasus Harun Masiku ternyata punya daya impak sangat besar. (doc/instagram @yudiharapan46)

JAKARTA – Kasus yang menjerat Harun Masiku, dinilai bukan kasus besar. Bahkan kasusnya masih kalah dengan Harvey Moeis. Namun begitu, kasus politisi PDIP ini punya dampak besar.

Harun Masiku diduga kuat menyuap Wahyu Setiawan yang saat ini menjadi Ketua KPU RI. Langkah ini dia lakukan agar bisa lolos menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) melalui proses Pergantian Antar Waktu. Wahyu kemudian terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh KPK bersama Agustiani Tio Fridelina. Sementara Harun Masiku, sudah kabur ke luar negeri, 3 hari sebelum OTT.

Mantan penyidik KPK, Yudi Purnomo mengatakan, kasus Harun Masiku tergolong receh. Dia mengasumsikan kalau Harun sebenarnya orang yang mencari kerja dengan mengajukan diri sebagai Anggota DPR.

“Kasus Harun Masiku, ini kasusnya receh. Tetapi kita melihat ternyata dampaknya luar biasa,” katanya di podcas youtube Deddy Corbuzier.

Menurutnya, Harun Masiku berani menyuap karena ada dukungan dan bantuan dari pejabat lain. Di saat bersamaan, dia punya keluarga di lembaga tinggi negara.

Dampak lain, katanya adalah lamanya penyidik KPK memecahkan kasus Harun Masiku tersebut. Terbukti dia sudah 5 tahun buron dan belum terdeteksi.

KPK akhirnya membongkar kembali kasus ini, dan memulai penyelidikan dari awal. Seperti meminta keterangan dari Wahyu, atau mantan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (HAM), Yasonna Laoly. Dan dampak lebih besar lagi, kasus ini lalu menyeret nama Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto.

“Hingga kemudian Hasto jadi tersangka,” katanya.

Ditanya tentang keberadaan Harun Masiku, Yudi mengaku tidak tahu sama sekali. Dia memperkirakan, Harun Masiku masih tetap berada di Indonesia dengan berbagai faktor.

“Nah ini lah yang jadi titik balik penyidik KPK dengan kembali ke titik awal kasus,” tegasnya. (*)

Exit mobile version