religi  

Kisah Jemaah Indonesia Tidak Bisa Pulang Meski Ibadah Haji Selesai akibat Perang Dunia II

ilustrasi. (doc/arsip nasional)

JAKARTA — Ibadah haji saat meletusnya Perang Dunia II menjadi tantangan luar biasa bagi ribuan jemaah asal Hindia Belanda. Konflik global yang pecah pada September 1939 membuat ribuan jemaah Indonesia tertahan di Tanah Suci, tidak bisa kembali ke tanah air. Mereka mengalami krisis logistik, keterbatasan akses transportasi, dan ketidakpastian jadwal kepulangan.

Dalam kondisi genting itu, sejumlah tokoh Indonesia yang berada di Tanah Hijaz membentuk Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin) pada 19 Juni 1940. Organisasi ini menjadi garda depan dalam menangani nasib 2.900 mukimin (sebutan bagi warga Indonesia yang tinggal atau tertahan di Arab Saudi), termasuk para jemaah haji. Berdasarkan proses verifikasi, Kokesin mencatat sebanyak 2.504 orang membutuhkan bantuan mendesak, terdiri dari 2.320 orang dewasa dan 184 anak-anak.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sujatmiko, pernah mengulas kembali peristiwa ini dalam sebuah forum sejarah sosial. Dia berbicara tentang ibadah haji saat perang dunia bukan sekadar ritual keagamaan, melainkan kisah perjuangan kemanusiaan.

“Kisah jemaah haji Indonesia pada masa Perang Dunia II adalah simbol ketangguhan, solidaritas, dan kepemimpinan dalam menghadapi krisis global,” ujarnya seperti dikutip dari NU Online.

Kokesin aktif menjalin komunikasi dengan Konsulat Hindia Belanda di Jeddah, Gubernur Jenderal di Batavia, serta Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Mereka meminta bantuan logistik dan kapal pemulangan. MIAI membalas singkat telegram dari Kokesin: “Sabar.” Meski demikian, bantuan tetap mengalir. Mulai dari 45 karung beras dan uang £5 dari Konsulat Jeddah, serta £200 dari MIAI.

Peran KH Anwar Musaddad

Setelah hampir satu tahun advokasi, kapal pemulangan akhirnya disetujui. Kapal pertama bertolak dari Jeddah pada 5 April 1941. Tokoh penting dalam misi penyelamatan ini adalah KH Anwar Musaddad, ulama muda asal Garut berusia 31 tahun yang menjadi Ketua Kokesin terakhir. Ia memimpin rombongan terakhir yang terdiri dari 630 orang. Rombongan jemaah ini berangkat dari Jeddah pada 15 September 1941, menggunakan kapal SS Garoet milik Rotterdamsche-Lloyd.

Tentu saja, perjalanan pulang dari ibadah haji tidak mudah karena terjadi dalam masa Perang Dunia II. Sepanjang pelayaran, tentu ada ancaman dari kapal perang dari negara yang terlibat konflik perang.

“KH Anwar menjalankan peran ganda, sebagai pemimpin spiritual sekaligus penghubung resmi dengan kapten kapal,” ungkap Budiman.

Dalam pelayaran selama 23 hari, empat orang meninggal dunia dan tiga bayi lahir di kapal. Perjalanan mereka bahkan memasuki bulan Ramadhan dan berlanjut hingga Idul Fitri. Seluruh jemaah merayakan lebaran di atas laut secara sederhana namun tetap khidmat.

KH Anwar meminta izin kapten untuk menyediakan hidangan istimewa. Yakni berupa sup sapi dari daging impor Liverpool seharga £140. Salat Idul Fitri pun mereka lakukan di atas dek kapal, di tengah lautan dekat Colombo, Ceylon (Sri Lanka).

“Jarang ada sejarah seperti ini. Ibadah haji di masa perang dunia, lebaran di tengah samudera, dan kepulangan yang penuh perjuangan. Ini warisan solidaritas yang layak dikenang bangsa,” tegas Budiman.

Kapal akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Pemulangan ini menjadi salah satu operasi penyelamatan warga Indonesia terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Sebanyak 2.504 jiwa berhasil pulang berkat koordinasi antara Kokesin, MIAI, dan tokoh-tokoh diaspora di Tanah Suci.

Sejarah lalu mencatat, tidak ada pemberangkatan warga Indonesia untuk menuaikan ibadah haji saat karena Perang Dunia tengah berkecamuk. Maklumat ini tertuang dalam Maklumat Menteri Agama Nomor 4 Tahun 1947. (*)

Exit mobile version