BOYOLALI – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Pemkab Boyolali, mematok target wilayah ini menjadi sentra ikan lele. Pemerintah menargetkan sentra lele ini akan terwujud dalam dua hingga tiga tahun.
Untuk mendukung target tersebut, KKP menerapkan budidaya bioflok lele di tiga kecamatan. Yakni Wonosamodro, Sambi, dan Andong. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas di kampung budidaya lele yang sudah berjalan sebelumnya.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyatakan KKP akan memperluas pengembangan budidaya lele di di Boyolali. Hal ini dia sampaikan saat meninjau lokasi budidaya tematik ikan lele sistem bioflok di Kecamatan Wonosamodro, Kamis, 1 Januari 2026.
“Kami mendukung Pemda Boyolali dengan mengembangkan budidaya lele di banyak desa. Upaya ini bertujuan menjadikan Boyolali sebagai daerah penghasil protein dari ikan lele yang kuat,” ujar Trenggono di laman resmi KKP.
KKP menyiapkan 24 kolam bioflok di setiap lokasi budidaya lengkap dengan 60 ribu ekor benih, pakan, mesin aerasi, vitamin ikan dan genset. Pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih mengelola seluruh bantuan budidaya perikanan tematik tersebut sebagai unit usaha.
Pemerintah menargetkan setiap lokasi budidaya mampu menghasilkan lima ton ikan lele dengan masa produksi sekitar dua hingga tiga bulan.
“Program ini selain untuk menggerakkan ekonomi di desa, juga sebagai upaya pemerintah meningkatkan gizi masyarakat. Karena ikan lele ini proteinnya cukup tinggi. Ini juga salah satunya untuk mendukung program MBG,” tegasnya.
Kapasitas Produksi Lele Boyolali
Saat ini, produksi ikan lele di Kabupaten Boyolali mencapai lebih dari 30 ribu ton per tahun. Hasil produksi tersebut memenuhi kebutuhan masyarakat lokal dan dipasarkan ke luar kabupaten. Pemerintah memprediksi permintaan pasar lokal akan terus meningkat seiring pelaksanaan program MBG yang membutuhkan lebih dari 3.000 porsi makanan per kecamatan setiap hari untuk pelajar.
Bupati Boyolali Agus Irawan menyatakan pemerintah daerah akan mengawal pelaksanaan program budidaya tematik lele melalui pendampingan intensif. Dan hasil panen akan menyuplai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Boyolali.
“Dinas terkait akan turun langsung melakukan pendampingan agar hasil panen optimal dan mampu memperkuat perputaran ekonomi di tingkat desa,” kata Agus.
Sebagai informasi, pada 2025 KKP mengembangkan 100 lokasi budidaya tematik untuk komoditas lele dan nila di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan DIY. (*)
