religi  

Larangan Dalam muslim Mempamerkan Dosa

ilustrasi

JAKARTA – Ketika seseorang mempamerkan dosa, ia tidak hanya menghilangkan rasa malu, tetapi juga menantang Allah SWT secara terang-terangan. Perbuatan ini mengundang murka dan azab Allah. Seorang Muslim sejati harus menjauhi sikap memamerkan dosa dan justru memperkuat keimanan serta menyesali setiap kesalahan, bukan malah berbangga dengannya.

Khatib menyampaikan nasihat kepada jamaah, khususnya kepada diri sendiri, agar kita menjauhi sikap mempamerkan dosa. Kita harus menjalankan takwa dengan sebenar-benarnya, bukan hanya sebatas kata-kata. Takwa itu artinya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan, lahir maupun batin.

Seorang Muslim yang taat akan menghindari perilaku mempamerkan dosa. Ia akan menjaga hatinya agar selalu takut kepada Allah dan tidak berani melanggar perintah-Nya. Allah telah memperingatkan dalam Al-Qur’an, bahwa mereka yang senang dengan maksiat yang mereka lakukan dan ingin dipuji atas perbuatan dosa mereka, tidak akan selamat dari azab-Nya.

Fenomena mempamerkan dosa kini marak terjadi di media sosial. Banyak orang mempublikasikan kemaksiatan mereka tanpa rasa takut kepada Allah. Mereka menjadikan dosa sebagai ekspresi kebebasan, bukan lagi sebagai aib. Padahal, tindakan ini tidak hanya salah secara agama, tetapi juga merusak nilai moral masyarakat.

Kita bisa melihat berbagai bentuk mempamerkan dosa di media saat ini, mulai dari memamerkan kehidupan hedonis, membuka aurat, mabuk, berzina, hingga memperolok agama. Beberapa orang bahkan mencari keuntungan dari dosa yang mereka pertontonkan. Lebih menyedihkan lagi, orang yang menegur dianggap kolot atau sok suci.

Allah juga mengecam perbuatan mempamerkan dosa dalam surat An-Nur ayat 19. Dalam ayat tersebut, Allah menegaskan bahwa mereka yang senang melihat tersebarnya perbuatan keji akan menerima azab di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW pun menyatakan bahwa dosa terang-terangan adalah dosa yang sulit diampuni karena pelakunya telah membuka aib yang Allah tutupi.

Melarang Mempamerkan Dosa

Rasulullah saw melarang umatnya mempamerkan dosa. Dalam hadis, beliau menyebutkan bahwa Allah masih akan mengampuni dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Namun, jika seseorang menceritakan kemaksiatannya secara terbuka, berarti ia telah mengabaikan rahmat Allah dan justru menantang-Nya.

Mari kita jauhi perilaku mempamerkan dosa karena ia menimbulkan berlapis-lapis dosa. Selain dosa dari perbuatannya sendiri, pelaku juga mendapat dosa karena menyebarkannya ke orang lain. Perbuatan ini bahkan bisa menginspirasi orang lain untuk mengikuti, sehingga menambah beban dosa jariyah yang tak berkesudahan.

Kita tidak boleh menjadikan kebebasan berekspresi sebagai alasan untuk mempamerkan dosa. Orang yang beriman akan merasa malu kepada Allah baik dalam kesendirian maupun di hadapan publik. Ketika seseorang merasa bangga dengan dosa, itu adalah tanda lemahnya iman dan kerasnya hati yang bisa membawa pada kehancuran. (*)

Exit mobile version