JAKARTA – Pada zaman sekarang, masyarakat lebih mengutamakan kenikmatan duniawi daripada menjunjung nilai-nilai spiritual. Banyak orang menjadikan gaya hidup hedonis sebagai tren dan mengejar kepuasan sesaat demi gengsi. Padahal, gaya hidup ini merusak kehidupan dan bertentangan dengan nilai Islam. Oleh sebab itu, kita perlu menegakkan syukur di tengah arus hedonisme agar tetap berada di jalan yang Allah ridai.
Redaksi menulis khutbah Jumat ini dengan judul: “Khutbah Jumat: Meneguhkan Qanaah dan Syukur di Tengah Arus Hedonisme.” Redaksi mengajak pembaca untuk mencetak khutbah ini dengan mengklik ikon cetak merah di tampilan desktop. Semoga khutbah ini membantu umat Islam memahami pentingnya syukur di tengah arus hedonisme dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.
Kita mengucapkan puji syukur kepada Allah karena telah memberi nikmat dan kesehatan sehingga kita bisa melangkah ke masjid dan menunaikan shalat Jumat. Kita juga bershalawat kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya. Mari kita menanamkan syukur di tengah arus hedonisme, agar kita tidak melupakan tujuan utama hidup, yaitu beribadah kepada Allah.
Khatib mengingatkan seluruh jamaah dan dirinya sendiri agar menjaga dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa menjadi fondasi utama yang memuliakan hidup dunia dan akhirat. Ketika kita menegakkan takwa, kita sekaligus memperkuat syukur di tengah arus hedonisme, sebab takwa mengajarkan hidup sederhana dan menjauhi hawa nafsu.
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang paling mulia di sisi-Nya ialah orang yang paling bertakwa. Imam Al-Qusyairi menjelaskan bahwa takwa berarti membebaskan diri dari dorongan nafsu dan keinginan duniawi. Maka, orang yang menjauhi hawa nafsunya dan mendekat kepada Allah telah memperkuat syukur di tengah arus hedonisme yang kini merajalela.
Gaya hidup hedonis kini membudaya dalam masyarakat. Kita menyaksikan banyak orang terjerat utang karena ingin tampil mewah di media sosial. Mereka mengabaikan halal-haram demi terlihat ‘kaya’. Kita harus melawan gaya hidup itu dengan syukur di tengah arus hedonisme, karena orang yang bersyukur merasa cukup dan tidak tergoda kemewahan dunia.
Imam Al-Qusyairi menegaskan bahwa hedonisme bertentangan langsung dengan takwa. Allah menciptakan manusia bukan untuk mengejar dunia, melainkan untuk beribadah kepada-Nya. Jika kita memprioritaskan ibadah, kita pasti menegakkan syukur di tengah arus hedonisme dan menjadikan hidup lebih bermakna serta terarah
Mengembalikan arah
Allah berfirman dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 bahwa Dia menciptakan jin dan manusia agar mereka beribadah kepada-Nya. Maka, kita harus mengembalikan arah hidup kepada tujuan penciptaan itu. Dengan memperkuat syukur di tengah arus hedonisme, kita membangun benteng pelindung dari keinginan duniawi yang berlebihan.
Melawan gaya hidup hedonis tidaklah mudah, terutama bagi mereka yang tinggal di kota besar dengan banyak godaan. Namun, Rasulullah SAW sudah memberikan teladan nyata melalui kesederhanaannya. Kita harus meneladani beliau dan membiasakan diri menanamkan syukur di tengah arus hedonisme, agar hidup kita berkah dan terhindar dari tipu daya dunia. (*)
