JAKARTA – Setiap hari, kita menyaksikan media sosial membanjiri layar ponsel dengan berbagai konten, mulai dari yang membangun hingga yang merusak nilai kehidupan. Untuk menjaga keluarga di media, kita perlu menyaring tayangan yang melemahkan iman dan membingungkan pola pikir. Keluarga harus menjadi benteng utama dalam melindungi diri dari paparan negatif dunia digital.
Allah SWT telah memberikan akal dan agama sebagai petunjuk agar kita mampu membedakan kebenaran dan kebatilan. Kita wajib menjaga keluarga dengan membekali mereka iman, ilmu, dan pemahaman akan kebaikan. Rasulullah SAW mengajarkan agar kita membina rumah tangga dengan nilai-nilai amanah dan perlindungan dari keburukan dunia.
Khatib mengingatkan jamaah untuk meningkatkan ketakwaan dalam setiap aspek kehidupan, termasuk saat menjaga keluarga. Allah berfirman dalam Ali Imran ayat 200 bahwa keberuntungan hanya akan diraih oleh orang yang bertakwa.
Di zaman digital ini, konten yang buruk menyebar dengan mudah melalui perangkat elektronik. Oleh karena itu, kita harus menjaga keluarga di media dengan aktif mengajarkan adab dan akhlak kepada anak-anak agar tidak terpengaruh oleh gaya hidup menyimpang yang tersebar di internet.
Menjaga keluarga di media berarti menjalankan perintah Allah dalam Al-Qur’an, seperti dalam QS. At-Tahrim ayat 6, yang memerintahkan kita melindungi diri dan keluarga dari api neraka. Kita harus membimbing mereka agar terhindar dari perbuatan yang membawa pada kebinasaan.
Ats-Tsa’labi menjelaskan bahwa menjaga keluarga di media harus mencakup usaha mengajarkan kebaikan, melarang keburukan, dan mendekatkan mereka kepada agama. Kita tidak cukup hanya melarang, tapi juga wajib memberikan pemahaman dan teladan yang baik.
Proses menjaga keluarga
Al-Wahidi menyampaikan bahwa proses menjaga keluarga di media adalah tugas berkelanjutan. Kita harus memulai dari diri sendiri, kemudian meneruskan pembinaan kepada anggota keluarga, dengan kedekatan, pendidikan, dan pengawasan.
Muqatil bin Hayyan menyampaikan bahwa setiap muslim wajib mendidik diri dan keluarganya. Untuk menjaga keluarga di media, kita perlu mengajarkan kebaikan, membiasakan mereka dengan adab Islam, dan menjauhkan dari segala bentuk konten yang merusak.
Di tengah arus informasi yang deras, orang tua dan kepala keluarga harus mengambil peran aktif. Kita menjaga keluarga di media dengan membina mereka secara utuh, bukan sekadar mengawasi dari luar, tapi juga menanamkan nilai agama dan membentuk karakter mereka.
Ulama tafsir menegaskan bahwa menjaga keluarga di media bukan hanya menyelamatkan mereka dari tayangan buruk, tetapi juga membina kedekatan spiritual. Ketika keluarga kuat dengan ilmu dan iman, mereka akan mampu bertahan di tengah perubahan zaman.
