JAKARTA – Awal puasa dan lebaran, kerap kali ada perbedaan antara pemerintah, ormas tertentu maupun kelompok kecil di masyarakat. Bahkan sempat viral karena ada tokoh yang sudah mendapatkan “telpon” langsung dari Tuhan terkait hari raya lebaran.
Bagi jamaah NU dan Muhammadiyah, perbedaan ini sudah kerap mereka alami dan rasakan. Tidak jarang, perbedaan tidak hanya di awal puasa, namun juga hari lebaran. Maka sering kali 1 lokasi dipakai NU dan Muhammadiyah secara bergantian untuk menggelar sholat Ied.
Laman nu.or.id memberikan penjelasan yang jadi sumber penyebab perbedaan awal puasa dan juga hari lebaran.
NU menggunakan kriteria rukyatul hilal. Dalam metode ini, penentuan tinggi hilal harus dengan pengamatan langsung untuk menentukan hilal setelah terjadinya ijtima’. Ijtima’ merupakan momen saat matahari dan bulan dalam satu bujur yang sama.
Dalam metode ini, ketinggian hilal harus mencapai 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat. Hal ini sesuai dengan kriteria terbaru yang ditetapkan oleh Majelis Ulama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Sementara Muhammadiyah, tidak melakukan pengamatan hilal secara langsung. Metode yang adalah dengan melakukan penghitungan yang bernama Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Dalam perhitungan ini, bulan baru sudah masuk meski hilal hanya di bawah 1 derajat di atas ufuk saat terbenam matahari.
Hisab hakiki wujudul hilal merupakan metode perhitungan posisi matahari dan bulan menggunakan ilmu falak. Bulan baru terjadi jika ketinggian hilal sudah di atas nol derajat dan terjadi ijtima’ sebelum matahari terbenam.
Kedua metode ini, sebenarnya sudah ada dalam ranah keilmuan islam sejak lama. Ini sekaligus menjadi bukti kalau umat muslim sudah punya peradaban hebat, karena mampu menentukan kalender dengan ragam metode.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir, MSi berharap tidak ada lagi diskusi tanpa akhir saat nantinya ada perbedaan awal puasa dan lebaran. (*)
