JAKARTA – Pernahkah kita membayangkan malam tanpa cahaya bulan, hanya gelap yang menyelimuti? Kita akan memahami begitulah dunia tanpa perempuan. Dalam Islam, para ulama menempatkan perempuan sebagai aktor utama dalam peradaban, bukan sekadar figuran. Namun, selama berabad-abad, banyak pihak membiarkan perempuan terkungkung oleh penafsiran keagamaan yang bias dan budaya patriarki yang mengekang.
Pemikir progresif asal Tunisia, Tohir Haddad, menyampaikan kritik tajam melalui karyanya Imra’atuna fi al-Syari’ah wa al-Mujtama (Perempuan Kita dalam Syariat dan Masyarakat). Haddad berupaya membuka tabir bias yang menutup potensi perempuan. Ia menegaskan bahwa Islam sejatinya membebaskan perempuan, bukan memenjarakannya. Haddad menunjukkan bahwa Al-Qur’an telah memberi hak-hak revolusioner kepada perempuan sejak abad ke-7, seperti hak waris, kepemilikan harta, dan pendidikan. Saat peradaban lain masih menganggap perempuan sebagai properti, Islam justru mengangkat derajat mereka lebih dahulu.
Tohir Haddad menilai bahwa ajaran Islam bukanlah akar persoalan, tetapi para penafsirnyalah yang kerap menghadirkan ketimpangan. Banyak ulama terdahulu menafsirkan ayat-ayat suci melalui lensa budaya patriarki yang membatasi gerak perempuan. Oleh karena itu, Haddad menyerukan pembacaan ulang terhadap teks-teks keagamaan dengan pendekatan keadilan gender.
Jejak Sejarah Perempuan Muslim: Pilar Peradaban
Kita bisa melihat banyak perempuan memainkan peran strategis dalam sejarah Islam. Khadijah menjalankan usaha dan mempekerjakan Rasulullah sebelum menjadi istrinya. Aisyah menjadi perawi hadis dan mengajar para ulama laki-laki. Umar bin Khattab bahkan menunjuk Al-Syifa binti Abdullah sebagai pengawas pasar di Madinah. Zubaidah, istri Khalifah Harun ar-Rasyid, mewakafkan sumber air untuk jamaah haji dari Irak hingga Mekkah.
Kita juga menemukan semangat ini dalam sosok perempuan Muslim Indonesia. R.A. Kartini memperjuangkan emansipasi dengan semangat Islam. Rahmah El Yunusiah mendirikan Perguruan Diniyyah Putri pada 1923. Mari’yah Khatib, ulama perempuan asal Sumatera Barat, mengajar agama sekaligus memimpin perlawanan terhadap penjajah. Nyai Ahmad Dahlan mendirikan Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah sejak 1917. Prof. Zakiah Daradjat memelopori pendidikan Islam dan kesehatan mental. Mereka semua membuktikan bahwa Islam tidak bertentangan dengan pemberdayaan perempuan, justru Islamlah yang memberi mereka inspirasi dan kekuatan.
Tohir Haddad mengingatkan umat Muslim untuk membedakan antara nilai-nilai Islam yang universal dan budaya lokal yang membatasi. Prinsip-prinsip seperti keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia berlaku bagi semua, baik laki-laki maupun perempuan.
Ketika perempuan berdaya, mereka menguatkan keluarga. Ketika keluarga menguat, masyarakat akan berkembang. Masyarakat yang adil dan beradab akan melahirkan peradaban yang memancarkan rahmat Islam bagi seluruh alam. Kini, saatnya kita mewarisi semangat Haddad. Kita harus memahami bahwa Islam bukan agama yang mengekang perempuan. Islam menjadi jalan pembebasan, ruang aktualisasi, dan cahaya bagi seluruh umat manusia. Seperti bulan yang memantulkan cahaya matahari, perempuan Muslim menyinari malam-malam gelap sejarah dan menerangi jalan peradaban ke arah yang lebih bermartabat. (*)
