TIONGKOK – Pemerintah Indonesia mencatat potensi kerja sama bisnis senilai Rp5,86 miliar dalam ajang China Lanzhou Investment and Trade Fair (CLITF) 2025. Para pelaku usaha memasarkan biji kopi Indonesia yang sudah dipanggang sebagai produk unggulan. Pemerintah memanfaatkan CLITF di Lanzhou untuk membuka peluang kerja sama bisnis jangka panjang di wilayah Tiongkok Barat Laut.
Atase Perdagangan RI, Budi Hansyah, mendorong pelaku usaha memperluas kerja sama di kota Lanzhou, Xi’an, dan Yinchuan. Ia menyebut CLITF bukan hanya soal transaksi jangka pendek, tetapi peluang kolaborasi jangka panjang. Pemerintah juga menargetkan sektor pertanian, pangan, dan energi terbarukan untuk membangun kerja sama berkelanjutan.
Paviliun Indonesia Jadi Pusat Promosi Kerja Sama Bisnis
Kementerian Perdagangan menyiapkan Paviliun Indonesia seluas 162 m² di Zona Silk Road International Cooperation. Di sana, pelaku usaha menampilkan produk kopi, mi instan, makanan ringan, perhiasan, dan aromaterapi. Pemerintah menilai antusiasme pengunjung sebagai bukti kuat bahwa strategi kerja sama bisnis berjalan efektif.
Selain mencatat potensi B-to-B, pelaku usaha juga membukukan transaksi ritel senilai Rp201 juta. Mereka memanfaatkan pameran untuk menjangkau konsumen langsung. Langkah ini membuka peluang distribusi sekaligus memperluas jalur kerja sama ritel di pasar Tiongkok.
Sebanyak 16 perusahaan Indonesia berpartisipasi di Paviliun Indonesia dan menjalin kerja sama bisn dengan mitra Tiongkok. Indofood, Nabati, dan John Andrew Coffee termasuk di antaranya. Mereka menjalin komunikasi dengan calon mitra dan menyusun strategi ekspor berbasis pasokan reguler untuk memperkuat hubungan kerja bisnis.
Yenny, perwakilan John Andrew Coffee, mencatatkan 75% dari total nilaikerja sama bisnis Indonesia di CLITF. Ia menilai pasar Tiongkok Barat Laut sangat tertarik pada kopi Indonesia. Perusahaan juga menjalin kesepakatan awal untuk memasok biji kopi secara rutin sebagai bagian dari kerja sama jangka panjang.
Pemerintah Indonesia memanfaatkan status
Pemerintah Indonesia memanfaatkan status sebagai Guest Country of Honor untuk memperkuat posisi dalam kerja sama bisnis. Mereka menampilkan desain tropis khas Indonesia di paviliun dan mengundang pejabat tinggi Tiongkok. Upaya ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun hubungan dagang yang berbasis kerja sama bisnis strategis.
Dubes RI Djauhari Oratmangun meresmikan Paviliun Indonesia yang turut dihadiri pejabat dari kedua negara. Pemerintah menjadikan CLITF sebagai ajang penguatan kerja sama bisnis di sektor pertanian, energi baru, dan perdagangan internasional. CLITF, yang berlangsung sejak 1993, menjadi jembatan penting dalam memperluas kemitraan dagang
Hingga Mei 2025, ekspor nonmigas Indonesia ke Tiongkok mencapai USD 24,25 miliar. Produk utama mencakup baja, batu bara, nikel, dan kelapa sawit. Pemerintah melihat peluang besar untuk meningkatkan kerja sama bisnis lewat kebijakan “Made in China 2025”. Kebijakan ini memperluas permintaan bahan baku, sehingga membuka jalan untuk hubungan kerja sama bisnis jangka panjang. (*)
