JAKARTA – Umat muslim yang menetap di New Zealand, menjalani ibadah puasa dengan durasi sampai 14 jam perhari. Puasa kali ini bertepatan dengan musim panas. Ini membuat waktu siang lebih panjang dari pada malam hari.
Bulan Ramadhan menjadi waktu yang tepat bagi umat Islam untuk meningkatkan ibadah dan berbuat kebaikan. Hal ini juga berlaku bagi komunitas Muslim di New Zealand. The Federation of the Islamic Associations of New Zealand (FIANZ) telah menetapkan awal puasa jatuh pada 2 Maret 2025.
Melansir nu.or.id, muslim di New Zealand tergolong minoritas di negara tersebut. Namun umat Muslim di New Zealand tetap menjalani ibadah puasa meski harus menahan lapar dan haus selama 14 jam.
“Saat ini, kami menjalankan puasa di musim panas, sehingga lebih panjang dari pada di Indonesia, yakni sekitar 14 jam 30 menit,” ujar Budi S Putra, seorang pengajar Seni Gamelan di New Zealand School of Music, Victoria University of Wellington.
“Imsak dimulai pukul 5.30 pagi, waktu berbuka pukul 20.05 malam, dan shalat tarawih sekitar pukul 21.20 malam,” kata dia.
Di berbagai kota besar Selandia Baru, terdapat organisasi keagamaan yang aktif, termasuk komunitas Umat Muslim Indonesia (UMI). Beragam kegiatan diadakan, mulai dari buka puasa bersama hingga tarawih keliling.
Meskipun jumlah toko makanan halal masih terbatas, menu berbuka dan sahur tetap beragam. Saat acara buka bersama, banyak makanan khas Indonesia yang tersaji. Seperti pisang goreng, kue talam, rendang, sayur asam, soto ayam dan sate kambing.
“Untuk berbuka dan sahur, kami biasanya memasak sendiri dengan bahan dari toko halal. Namun, ketika berbuka bersama, selalu ada makanan khas Indonesia. Di masjid, sering tersaji nasi briyani dengan ayam atau kambing,” ungkap Budi. (*)
