News  

Pupuk Langka, Produksi Gabah Bakal Turun

Produksi gabah petani turun karena pupuk langka. Produksi rata-rata per hektar hanya tembus 4 ton saja. (haryadi nuryadin/bercahayanews.com)

CILACAP – Produksi gabah di sejumlah tempat di Cilacap, turun drastis akibat kesulitan petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi karena langka. Penurunan produksi ini rata-rata mencapai 2 ton perhektar.

Petani di Cilacap saat ini terus berupaya agar mereka bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. Mereka terus mengupayakan agar bisa memiliki kartu tani. Dengan demikian, mereka bisa mendapatkan pupuk agar bisa menjaga produksi gabah.

Hanya saja, justru petani mengeluh mendapatkan pupuk bersubsidi yang justru langka. Meskipun sudah banyak petani yang memegang kartu tani dengan harapan bisa mendapatkan pupuk.

Seperti petani yang ada di Kecamatan Majenang, Cilacap. Produksi gabah turun drastis dan sulit bisa mencapai hasil seperti beberapa tahun lalu.

“Sekarang jangan bicara (produksi gabah) 6 ton. Paling 4 ton per hektar,” ujar Ketua Gabungan Paguyuban Petani Pengguna Air (GP3A) Kecamatan Majenang, Wahyudi.

Dia memastikan, kendala utama dari penurunan produksi gabah karena faktor pupuk yang langka. Minimnya pupuk kimia bersubsidi pada akhirnya membuat pertumbuhan padi tidak maksimal. Demikian juga dengan perkembangan bulir padi yang berujung pada pengurangan produksi.

“Faktornya pupuk,” kata dia.

Faktor lain, katanya adalah kemarau yang membuat petani makin terpukul. Selama kemarau, ada beberapa petak sawah yang tidak bisa terairi sama sekali.

Seperti irigasi kanan Bendung Cileumeuh yang seharusnya mengalirkan air ke Desa Cilopadang, Padangsari dan sebagian Padangjaya. Namun sejak kemarau, mayoritas petani tidak bisa mengolah sawah sama sekali karena tidak ada pasokan air.

“Dari DI (daerah irigasi) Cileumeuh, ada 2 hektar yang kekeringan,” katanya.

Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Majenang, Eko Budiharto mengakui, wilayah rawan kekeringan di sana mencapai 500 ha. Lokasinya tersebar di Desa Cilopadang, Padangjaya, Padangsari dan Pahonjean.

“Terutama yang mengandalkan pasokan air dari saluran irigasi kanan Cileumeuh,” tegasnya. (*)

Exit mobile version