JAKARTA – Tiap bulan ramadan, selalu muncul berita tentang shalat tarawih tercepat dari sisi durasi. Video dan berita seperti ini selalu mengundang perhatian luas dari masyarakat dan juga netizen.
Shalat tarawih super kilat, tengah jadi perbincangan di jagad media sosial. Penyebabnya tidak lain dan tidak bukan karena seluruh rangkaian shalat tarawih plus witir ini hanya butuh 10 menit. Sholat ini berlangsung di Ponpes Mamba’ul Hikam, Blitar dengan imam KH Dliya’uddin Azzamzami Zubaidi.
Melansir nu.or.id, sholat sunnah apalagi fardhu, harus memperhatikan tata tertib dan tuma’ninah. Arti paling mudah yakni khusyu dan gerakan shalat dengan tertib.
Terkait shalat tarawih tercepat bahkan sampai 7 menit, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengatakan bahwa durasi paling minimal dalam mengerjakannya adalah 30 menit.
“Pokoknya, umumnya shalat tarawih itu minimal setengah jam. Beda lagi kalau yang khusus itu bisa sampai 2 jam lebih,” kata
Menurutnya, ada beberapa versi durasi shalat tarawih, yakni cepat maupun lebih lama. Baginya, tidak ada masalah dengan durasi shalat yang berbeda tersebut. Namun yang perlu diingat adalah pelaksanaan shalat harus tenang dan tidak terburu-buru.
Terkait shalat malam ini, ia mengakui bahwa terdapat beberapa versi durasi pelaksanaannya. Sebagian ada yang terlalu cepat, ada juga yang lebih lama. Kiai Miftach tidak mempermasalahkan soal durasi atau waktunya yang berbeda-beda. Dia lebih menekakan pada pelaksanaan shalat yang harus tenang dan tanpa terburu-buru.
Dia lalu tidak menganjurkan shalat sunnah ini dalam versi super cepat, meski yang melakukannya adalah orang yang kompeten dalam bidang agama.
“Kita amati, katanya, bacaannya lengkap, itu nggak ada, nggak ada yang lengkap,” katanya.
“Meskipun yang jadi imam punya kekramatan bisa ngelempit bacaan yang mestinya 5 menit jadi hanya sepersekian detik, sulit bisa diterima. Jadi, alasan apa pun nggak bisa diterima,” tandasnya. (*)
