CILACAP – Menteri Agama Nasarudin Umar menegaskan Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan peradaban Islam modern. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat menghadiri diskusi Pojok Baca Nahdliyin di Pondok Pesantren El Muslim, Desa Pesahangan Kecamatan Cimanggu, Cilacap, Minggu (3/8/2025).
Beda dengan Indonesia, Nasarudin menyatakan, negara Timur Tengah tak lagi bisa menjadi pusat peradaban Islam modern. Ini karena negara di Timur Tengah sedang menghadapi krisis. Mulai dari krisis inflasi, stagnasi ekonomi, hingga konflik berkepanjangan.
Dia lalu menyebut Mesir, Suriah, Sudan, hingga Iran tengah menghadapi berbagai krisis tersebut. Dan negara ini sebelumnya sempat menjadi patokan Indonesia karena menjadi pusat peradaban Islam.
“Negara-negara di sekitar Israel tidak ada ketenangan. Maka kita patut bersyukur, karena Indonesia tetap stabil dan damai,” ujarnya.
Menteri Agama menekankan pentingnya membaca dua “kitab” yang menjadi dasar pembentukan peradaban Islam. Yakni Qur’an Qawniyah (alam semesta) dan Qur’an Tadwiniyah (kitab suci). Ia mengajak masyarakat Indonesia, khususnya kalangan santri dan pelajar, agar tidak berhenti hanya memahami teks kitab. Namun berlanjut pada menggali makna mendalam dan menerapkannya dalam ilmu pengetahuan serta riset.
“Kalau kita hanya membaca Qur’an Kitabiyah tapi tidak bisa membaca Qur’an Taqwiniyah, kita akan pincang. Islam akan jaya jika kita mampu memadukan keduanya, ilmu keislaman dan ilmu alam,” ucapnya.
Nasarudin menyebut metode Iqra’ (bacalah) sebagai kunci utama peradaban. Menurutnya, Nabi Muhammad SAW berhasil membawa Islam ke puncak kejayaan karena menggabungkan semangat iqra’ dengan bismirabbik (atas nama Tuhanmu). Ia menilai inilah saat yang tepat bagi Indonesia untuk mengambil tongkat estafet peradaban tersebut.
“Selama kita terus menjalankan Iqra’ Bismillahirrahmanirrahim, maka Islam akan kembali jaya. Abad ke-19 hingga 6 abad ke depan adalah abadnya Indonesia,” katanya optimis.
Ia berharap gerakan literasi seperti Pojok Baca Nahdliyin mampu menjadi pintu masuk kemajuan umat.
“Pusat peradaban Islam masa depan harus lahir dari tempat yang damai, dan itu adalah Indonesia,” tegasnya. (*)
