• Jum. Jun 19th, 2026

Hawa Dingin Saat Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Kabut tebal di pagi hari selama musim kemarau. Musim kemarau kerap terjadi hawa dingin karena terpengaruh sejumlah faktor. (doc/instagram)

JAKARTA – Fenomena hawa dingin mulai terasa di berbagai wilayah Indonesia selama musim kemarau. Seperti wilayah di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut kondisi ini sebagai hal yang wajar dan terjadi secara musiman.

Fenomena hawa dingin saat kemarau ini terpengaruh oleh posisi semu matahari yang berada di belahan bumi utara, serta dominasi angin timuran yang bersifat kering dan membawa massa udara dingin dari Australia ke wilayah Indonesia bagian selatan.

Hawa dingin seperti ini, sudah terasa sejak sore hari karena pengaruh sinar matahari sudah tidak ada. Dan ketika malam, hawa dingin kian terasa sekali. Baru pada menjelang fajar, cuaca terasa lebih hangat. Terlebih lagi saat sinar matahari sudah benar-benar masuk ke atmosfer.

Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa hawa dingin saat kemarau merupakan fenomena alamiah yang terjadi setiap tahun, terutama pada periode Juli hingga September. Kondisi ini dikenal juga dengan istilah bediding, yaitu suhu yang lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam dan dini hari.

“BMKG memprakirakan suhu dingin ini masih akan berlangsung hingga akhir Juli. Di Jakarta dan sekitarnya, suhu pada pagi hingga siang hari berada di kisaran 25–27 derajat Celsius. Dan bisa turun hingga 25 derajat Celsius pada malam hari,” kata Guswanto.

Selain hawa dingin, musim kemarau juga identik dengan kabut tebal terutama pada pagi hari. Ini terjadi karena kombinasi suhu rendah dan kelembapan tinggi di udara. Udara yang dingin pada malam hari menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat. Jika udara lembap berada di dekat permukaan, uap air akan jenuh dan mengembun menjadi tetesan air kecil, membentuk kabut.

Meski begitu, durasi kabut tebal ini tidak terlalu lama. Saat hawa dingin mulai hilang, kabut ini juga akan lenyap. (*)

By