Aliansi Kebangsaan: Pendidikan Merupakan Alat untuk Membentuk Kebudayaan

Aliansi Kebangsaan menegaskan pendidikan berfungsi untuk membentuk kebudayaan. Mereka menilai kebudayaan baru lahir dari sistem pendidikan yang diarahkan dengan tepat.(doc)

JAKARTA – Aliansi Kebangsaan menegaskan pendidikan berfungsi untuk membentuk kebudayaan. Mereka menilai kebudayaan baru lahir dari sistem pendidikan yang diarahkan dengan tepat.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo menekankan pentingnya pendidikan untuk membentuk kebudayaan. Dalam Sarasehan Pendidikan Nasional bertema.

“Oleh karena itu, kami harus merancang sistem pendidikan nasional agar mampu membentuk kebudayaan sekaligus melahirkan warga negara yang berkarakter dan siap menghadapi tantangan zaman,” ujar Pontjo Sutowo dalam Podcast Aliansi Kebangsaan “Sistem Pendidikan Nasional”.

Pontjo menambahkan, pandangan ini sejalan dengan pemikiran mantan Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Menurut Daoed, anak lahir sebagai penduduk Indonesia, tetapi pendidikanlah yang membentuk kebudayaan hingga ia menjadi warga negara Indonesia.

Daoed menegaskan sistem pendidikan wajib mengantisipasi perubahan dan merumuskan nilai yang relevan. Dengan begitu, generasi mendatang bisa membentuk yang tangguh dan tidak menjadi korban ketidakpastian global.

Sarasehan ini berupaya membentuk kebudayaan akademik melalui empat hal penting. Pertama, pemahaman bersama tentang realitas pendidikan nasional dan kesenjangan antara cita-cita serta kondisi nyata.

Kedua, peserta mengidentifikasi arah strategis masa depan, baik dari sisi kebijakan maupun implementasi pendidikan. Ketiga, mereka menyusun rekomendasi aksi konkret, mulai dari revisi RUU Sisdiknas, penyempurnaan kurikulum, hingga langkah praktis di sekolah dan masyarakat.

Keempat, peserta membentuk jejaring kerja. Jejaring ini membentuk kolaboratif agar rekomendasi tidak berhenti di ruang diskusi, melainkan ditindaklanjuti secara nyata.

Dengan demikian, sarasehan bertujuan mengubah pertanyaan kritis “Kemana Sistem Pendidikan Nasional Mengarah?” menjadi peta jalan yang jelas.

“Setiap peserta kami dorong berperan aktif sebagai agen perubahan. Peran ini penting untuk membentuk kebudayaan bangsa melalui pendidikan yang lebih kuat, adaptif, dan berakar pada jati diri Indonesia,” pungkas Pontjo. (*)

Exit mobile version