JAKARTA – Geger pemberitaan tentang pertamax oplosan, menjadi perhatian luas masyarakat. Mereka merasa khawatir kalau kendaraan sudah salah “minum” dan bisa merusak mesin kendaraan.
Isu Pertamax oplosan bermula saat Kejaksaan Agung menangkap Direktur PT Pertamina Patra Niaga, Riva Siahaan. Kejaksaan Agung meyakini, Riva sudah melakukan kejahatan hingga membuat negara rugi Rp 193,7 T. Termasuk akibat dari mark up harga dan pembayaran ongkos pengiriman minyak mentah.
“Dalam pengadaan produk kilang oleh PT Pertamina Patra Niaga, Tersangka RS melakukan pembelian (pembayaran) untuk Ron 92 (Pertamax), padahal sebenarnya hanya membeli Ron 90 (Pertalite) atau lebih rendah kemudian dilakukan blending di Storage/Depo untuk menjadi Ron 92,” demikian bunyi keterangan Kejagung.
Isu Pertamax oplosan, membuat influencer otomotif di tanah air ikut buka suara. Adalah Fitria Eri yang menilai konsumen bingung dengan statemen dari Kejaksaan Agung dan Pertamina saat RDP dengan DPR. Keduanya memberikan pernyataan berbeda terkait oplosan Pertamax dengan Pertalite.
“Kejaksaan bilang ada oplosan. (Rapat) Dengar Pendapat bilan tidak ada oplosan. Mana yang benar,” katanya di unggahan insta story @fitria.eri.
Menurutnya, dalam setahun terakhir banyak beredar keluhan netizen tentang kualitas Pertamax. Mayoritas mengeluhkan mobil terasa berat dan boros bahan bakar, meski sudah menggunakan Pertamax yang punya RON 92.
“Entah terkait hal ini (oplosan Pertamax) atau tidak. Mereka membandingkan saat memakai BBM dengan oktan sama dari swasta, kok mereka merasa (mobil) lebih hemat dan lebih bertenaga atau kencang,” katanya.
Dia melanjutkan, bensin di tanah air dengan oktan 90 dan 92, sebenarnya sudah tergolong kuno. Karena sejumlah negara tetangga sudah tidak menjual BBM dengan oktan rendah.
“Sebenarnya, kalau kita mau jujur, bensin yang dijual di negara kita sudah out of date (dengan) oktan 90, 92. Negara tetangga kita saja, minimal oktan 95,” kata dia.
“Tapi harganya, kita lebih mahal dari tetangga kita. Itu adalah fakta,” tegasnya.






