CILACAP – Pelaksanaan sholat Idul Adha di Cilacap yang serempak di hari Jumat (6/6/2025), memaksa warga menggunakan ruas jalan karena lokasi tidak sepenuhnya mampu menampung jemaah. Seperti pelaksanaan sholat Idul Adha di Kecamatan Majenang, Cilacap.
Panitia sebenarnya sudah mempersiapkan alun-alun setempat sebagai lokasi sholat ied. Namun karena tidak muat, sebagian memanfaatkan jalan raya sebagai tempat sholat dan mendengarkan khutbah Idul Adha.
Ketua Panpel Sholat Idul Adha Majenang, Sugeng Riyadi menyebutkan, ini imbas dari keputusan pemerintah tentang awal bulan Dzullhijah dan Idul Adha. Keputusan ini muncul melalui sidang isbat dan memastikan Idul Adha bertepatan dengan 6 Juni 2025.
“Menurut saya, ini Idul Adha yang akbar karena pas di hari Jumat,” kata Sugeng.
Dia juga melihat antusias warga sangat tinggi untuk melakukan sholat idul adha yang tahun ini kebetulan serempak di seluruh Indonesia.
“Sholat Idul Adha serempak dan kompak. Kemarin puasa Arafah juga sama, karena memang sudah otomatis. Jika hari Arafah kamis, maka sholat idul adha serempak di hari jumat,” terangnya.
Dia menambahkan, warga di Majenang juga melakukan kegiatan yang kental dengan nuansa islam. Yakni menggelar doa bersama bertepatan dengan jemaah haji melakukan wukuf di Arafah.
“Kemarin warga juga kompak melakukan doa bersama,” katanya.
Dan karena Sholat Idul Adha serempak di hari Jumat, maka panitia mengeser penyembelihan hewan kurban di hari Sabtu (7/6/2025). Hingga warga bisa fokus melakukan sholat jumat berjamaah.
“Penyembelihan besok hari Sabtu,” tegasnya.
Sebelumnya, Kementerian Agama memutuskan Idul Adha jatuh pada 6 Juni 2025. Keputusan ini muncul usai kementerian mengelar sidang isbat pada Selasa (27/5/2025) malam. Keputusan pemerintah ini sama dengan Maklumat PP Muhammadiyah tentang awal Dzullhijah dan Idul Adha.
“Hasil pengamatan hilal di 114 titik lokasi di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa hilal telah terlihat di Aceh Jaya. Berdasarkan data tersebut, kami menetapkan 1 Zulhijah 1446 H jatuh pada Rabu 28 Mei 2025,” kata Menteri Agama, Nasaruddin Umar. (*)






