PBNU Lepas 24 Santri Penerima Beasiswa Kuliah ke Maroko

engurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) melepas 24 santri penerima Beasiswa Kuliah ke Maroko. (doc/nu online)

JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) melepas 24 santri penerima Beasiswa Kuliah ke Maroko. PBNU menyelenggarakan pelepasan itu di kantor pusat Jakarta pada Selasa (23/9/2025) malam. Ketua RMI PBNU KH Hodri Ariev menegaskan, “Malam ini kita melepas mereka secara resmi, dan besok mereka berangkat ke Maroko untuk melanjutkan studi.”

Setibanya di Negeri Maghribi, Pengurus Cabang Internasional NU Maroko menyambut para santri penerima Beasiswa Kuliah, lalu memberikan pembekalan serta orientasi. Kiai Hodri menjelaskan bahwa program Beasiswa Kuliah PBNU ke Maroko sudah berjalan hingga angkatan ke-4. Dua angkatan pertama tidak mensyaratkan hafalan Al-Qur’an 30 juz, sedangkan dua angkatan terakhir mewajibkannya. Para santri dari berbagai pesantren berhasil lolos seleksi akademik murni sebelum menerima Beasiswa Kuliah hasil kerja sama PBNU dengan Kerajaan Maroko.

Prestasi Santri Penerima Beasiswa Kuliah

Kiai Hodri menegaskan bahwa santri penerima Beasiswa Kuliah dari angkatan sebelumnya meraih banyak prestasi di Maroko. Ia berkata, “Beberapa santri kita mengikuti kompetisi syarah mutun, syarah Al-Qur’an, dan mereka berhasil meraih juara satu tingkat nasional.”

Ketua PBNU KH Miftah Faqih menegaskan bahwa seleksi Beasiswa Kuliah ke Maroko berlangsung sangat ketat. Ia menjelaskan bahwa pihaknya mensyaratkan hafalan Al-Qur’an, penguasaan turats, kemampuan bahasa Arab, hingga proses inkubasi. Ia berkata, “Dari lebih 400 pendaftar, hanya 24 santri yang lolos. Kompetisinya sangat ketat, dan peserta harus siap lahir batin.”

Kiai Miftah menekankan bahwa semua orang berhak mendapat akses pendidikan, termasuk santri penerima Beasiswa Kuliah. Ia menegaskan, “Siapa pun boleh mendaftar selama memenuhi syarat. Kalau tidak memenuhi syarat, meskipun anak orang berpengaruh, tetap tidak bisa.” Ia bahkan menuturkan bahwa beberapa peserta kesulitan membeli tiket untuk datang ke kantor PBNU, namun mereka tetap lolos seleksi karena kemampuan mereka.

Fiya Nahdliyatus Shidqiyah, santri Pesantren Salafiyah Bangil Probolinggo Jawa Timur, menceritakan pengalamannya lolos Beasiswa Kuliah ke Maroko. Ia berkata, “Saya awalnya mendapat kabar dari kerabat yang pernah ke Maroko. Ketika melihat link pendaftaran di NU Online, saya mencoba daftar, dan Alhamdulillah lolos.”

Fiya menjelaskan motivasinya melanjutkan studi dengan Beasiswa Kuliah di negeri asal Ibnu Batutah. Ia menegaskan, “Maroko sangat layak untuk memperdalam ilmu agama dan Al-Qur’an. Negeri ini benar-benar sesuai dengan apa yang saya cari.” (*)