JAKARTA – Purbaya buka-bukaan harga asli BBM dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Rabu (1/10/2025). Menteri Keuangan itu menyebut harga keekonomian Solar sebenarnya Rp11.950 per liter. Namun, rakyat masih membelinya seharga Rp6.800 per liter karena negara menanggung subsidi Rp5.150 per liter.
Selain Solar, harga asli BBM jenis pertalite. Menurutnya, harga keekonomian Pertalite mencapai Rp11.700 per liter, tetapi masyarakat membayar Rp10.000 per liter. APBN menanggung selisih Rp1.700 per liter dalam bentuk subsidi energi.
Dalam kesempatan itu, buka-bukaan harga asli BBM sekaligus membandingkannya dengan minyak tanah. Ia menjelaskan harga keekonomian minyak tanah Rp11.150 per liter, tetapi rakyat hanya membayar Rp2.500. Pemerintah menanggung Rp8.650 per liter atau setara 78 persen dari harga aslinya.
Tak hanya BBM, harga asli BBM juga disertai penjelasan soal LPG 3 kilogram. Ia menyebut harga asli mencapai Rp42.750 per tabung. Namun, setelah subsidi Rp30.000 per tabung, masyarakat hanya membeli seharga Rp12.750.
Selain itu, purbaya buka-bukaan harga asli BBM dengan menyinggung tarif listrik. Ia menegaskan pemerintah memberi subsidi Rp1.200 per kilowatt hour (kWh) untuk rumah tangga berdaya 900 VA. Akibatnya, tarif listrik yang dibayar masyarakat hanya Rp600 per kWh.
Menurut Purbaya, purbaya buka-bukaan harga asli BBM menunjukkan harga energi sejak 2022 belum mencapai nilai keekonomian. Meski begitu, ia menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga subsidi agar masyarakat berpenghasilan rendah tetap terlindungi.
Lebih lanjut, purbayabuka-bukaan harga asli BBM dengan menekankan perlunya ketepatan sasaran subsidi. Ia menyebut Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) bisa menjadi fondasi transformasi subsidi agar lebih tepat penerima. (*)






