JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyederhanakan kurikulum pembelajaran untuk sekolah terdampak banjir Sumatera. Kebijakan ini bertujuan memastikan proses belajar tetap berjalan di tengah kondisi darurat bencana.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, melaporkan kebijakan tersebut saat Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (15/12/2025).
Kepada Presiden Prabowo saat rapat itu, Abdul Mu’ti menyampaikan kurikulum di sekolah terdampak banjir di Sumatera akan lebih sederhana.
“Pada fase tanggap darurat, kurikulum kami sederhanakan menjadi kompetensi minimum yang esensial,” ujarnya.
Ia melanjutkan, pada masa tanggap darurat selama 0–3 bulan, Kemendikdasmen memfokuskan pembelajaran mendasar. Seperti literasi dan numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri serta dukungan psikososial. Demikian juga dengan edukasi mitigasi bencana.
Kemendikdasmen juga menyesuaikan metode pembelajaran dengan kondisi lapangan. Juga dengan menyiapkan bahan belajar darurat bagi sekolah terdampak banjir Sumatera.
Dalam fase ini, Kemendikdasmen meniadakan asesmen yang kompleks. Guru melakukan evaluasi pembelajaran secara sangat sederhana dan fokus pada kehadiran siswa. Juga pada rasa aman selama murid mengikuti pembelajaran.
Memasuki fase pemulihan dini selama 3–12 bulan, Kemendikdasmen menyiapkan kurikulum adaptif berbasis krisis. Pemerintah menjalankan program pembelajaran secara fleksibel dan terdiferensiasi sesuai kondisi peserta didik. Sistem asesmen juga memasuki masa transisi melalui penilaian dan penugasan sederhana.
Pada fase pemulihan lanjutan selama 1–3 tahun, Kemendikdasmen mengintegrasikan pendidikan kebencanaan secara permanen ke dalam kurikulum. Pemerintah juga memperkuat kualitas pembelajaran, mendorong pendidikan inklusif berbasis ketahanan, serta membangun sistem monitoring dan evaluasi pendidikan darurat.
Abdul Mu’ti menambahkan, kegiatan pembelajaran di wilayah terdampak banjir mulai berangsur berjalan dengan skema darurat. Mulai dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Kemendikdasmen mencatat, sebanyak 93 sekolah di Kabupaten Agam masih meliburkan siswa hingga 22 Desember 2025. Ini karena dampak banjir yang menyulitkan siswa untuk bisa kembali bersekolah. Dan .
Dari Sumut, sekolah di 5 kabupaten provinsi terpaksa melakukan pembelajaran darurat. (*)
