CILACAP – BPBD Cilacap kini tengah menunggu rekomendasi tim Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi (PVMBG). Nantinya rekomendasi ini akan menjadi pijakan penanganan bencana tanah longsor yang terjadi di Cilacap pada Oktober 2022.
Kedatangan tim ini setelah ada permintaan dari Pemerintah Kabupaten Cilacap pasca longsor dan pergerakan tanah. Bencana ini terjadi di Desa Boja Kecamatan Majenang dan Karangkemiri (Jeruklegi).
Di kedua desa ini, tanah bergerak sudah mengancam rumah warga, jalan dan fasilitas umum lainnya. Salah satunya adalah SD 04 Boja di Kecamatan Majenang.
Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Wijonardi mengatakan, tim PVMBG memang sudah memberikan rekomendasi usai mendatangi 2 kecamatan tersebut.
“Mereka kan baru kemarin turun ke lapangan. Nanti akan ada hasil kajian resmi yang akan dikirim ke kita,” kata Wijonardi.
Rekomendasi awal untuk SD 04 Boja antara lain menyebutkan kalau tanah di sana tidak bisa secara maksimal guna pendirian bangunan. Jika SD ini tetap berada di sana, harus ada langkah lain berupa penataan lahan.
“Nanti tetap harus ada rekayasa-rekayas sebelum pembangunan,” katanya.
Sementara rekomendasi awal atas wilayah Karangkemiri adalah penataan saluran air. Dengan demikian air tidak langsung masuk ke lapisan bawah tanah. Jika ini terjadi, maka tanah di bawah akan sangat gembur dan mudah bergerak.
Wijonardi memastikan, apapun rekomendasi tim PVMBG akan menjadi acuan pemerintah Cilacap untuk mengambil keputusan. Mulai dari kemungkinan relokasi SD 04 Boja atau penataan lahan di Desa Karangkemiri.
“Ini akan jadi acuan kita. Memang PVMBG tidak pernah melarang kita untuk membangun,” katanya.
“Tapi pasti akan memberikan rekomenasi bagaimana membangun di suatu tempat. Karena tim ini mengetahui bahwa daya dukung lingkungan. Itu berdasarkan kajian seperti apa dan seberapa mampunya,” tegasnya. (*)
